GOOGLE SEARCH

Showing posts with label Berita PKI. Show all posts
Showing posts with label Berita PKI. Show all posts

Saturday, 4 February 2017

GARA-GARA SAID AQIL SIRAJ





Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah (PPSS) Asembagus Situbondo lewat pengasuhnya, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy mengeluarkan maklumat MUFAROQOH dari Nahdlatul Ulama pimpinan Said Aqil Siraj (21/9/2015).

“Kami mufaroqoh dan tidak ada kait mengait antara kami dan pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil muktamar ke-33 di alun-alun jombang,” begitu salah satu kalimat dalam maklumat tersebut.

Dijelaskan juga, dalam maklumat itu diserukan kepada para Ulama dan warga nahdliyin agar tetap mempertahankan ajaran ahlussunah wal jamaah (Aswaja). Ajaran tersebut juga harus dijaga dari serangan aqidah dan ideologi di luar ajaran Aswaja

TEBUIRENG

Setelah Ponpes Salafiyah Syafi’iyyah Asembagus Situbondo mufaroqoh, berikutnya giliran Ponpes Tebuireng Jombang. Bahkan lewat pengasuhnya KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengeluarkan pernyataan lebih tegas.

“Tebuireng sejak awal tidak menganggap ada kepengurusan PBNU yang sah” Kata Gus Sholah.

Ada tiga poin maklumat yang dikeluarkan Tebuireng, di antaranya tetap konsisten menganggap tidak ada PBNU hasil Muktamar ke 33 di Jombang. Kemudian mendukung adanya upaya hukum yang menggugat proses hasil muktamar, serta meminta warga NU untuk berpegang teguh kepada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

SIDOGIRI

Beberapa bulan lalu, publik kembali dikejutkan dengan diterbitkannya buku berjudul : “SIDOGIRI MENOLAK PEMIKIRAN KH. SAID AQIL SIRAJ”. Buku tsb disusun dan diterbitkan secara resmi oleh Pondok Pesantren NU tertua di Jawa Timur, Sidogiri.

Buku itu untuk menjawab buku yang dikarang oleh Said Aqil yang berjudul “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi.’ Secara ilmiyah Sidogiri membongkar habis kedok pemikiran menyimpang Said Aqil Siraj. Diantaranya:.

1. Said Aqil menuduh motif dakwah Rasulullah dalam menyebarkan Islam semata-mata politis, ingin menguasai Romawi dan Persia.

2. Said Aqil Menyatakan bahwa paham Muktazilah dan Syiah termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

3. Said Aqil menyatakan bahwa Umat Beriman bukan monopoli umat Islam. Kaum Yahudi, Kristiani, Shabi’in, Budha, Hindu, Konghuchu, maupun kepercayaan lain apapun nama tuhannya adalah umat beriman.

4. Said Aqil menafikan adanya Ukhuwah Islamiyah dalam Al-Qur’an Hadits dan menyatakan bahwa yang ada hanya Ukhuwah Imaniyah yaitu Ukhuwah antara orang-orang yang “beriman” (versi Said Aqil).

5. Dan lain sebagainya.

ANEKA PENYIMPANGAN SAID AQIL LAINNYA:

1. Tgl 1 Juni 2012 di Gedung PBNU, Said Agil menyatakan bahwa yang perlu dilakukan umat Islam adalah "Membela Tanah Air" bukan "Membela Islam".

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon.html  Ronde 1

2. Tgl 6 Juni 2012 di Gedung PBNU, Said Agil menyatakan bahwa Perda Syariah bermasalah sehingga tidak perlu, karena setiap perda pro rakyat dan pro bangsa sudah Islami.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-ronde-jakarta.html  Ronde 1

3. Tgl 28 Juni 2012 dalam tulisannya di Harian Republika dengan judul "Menyikapi Kontroversi", Said Agil menyatakan bahwa LIBERAL hanya sebatas perbedaan, sehingga harus disikapi dengan toleransi dan tenggang rasa, lalu menyamakan Tokoh L**B* Irsyad Manji dengan Tokoh Islam Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi serta Tokoh Sufi Abu Yazid Al-Busthomi.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-ronde-3.html Ronde 3

4. Tgl 3 Juli 2012 dalam pembukaan MTQ Internasional NU ke-7 di Pontianak - Kalbar, Said Agil menyebut nama Gubernur Kalbar yang Katholik dengan sebutan USTADZ Cornelis, dan menyatakannya sebagai NU CABANG KATHOLIK.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-jilid-4.html  Ronde 4

5. Tgl 4 September 2012 di berbagai media, Said Agil berkoar-koar membolehkan Non Muslim memimpin umat Islam dengan dalih Pemimpin Non Muslim yang adil lebih baik daripada Pemimpin Muslim yang zalim.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-ronde-5.html Ronde 5

6. Tgl 14 Oktober 2012 saat penanda-tanganan MOU antara PBNU dengan LDII tentang penanggulangan radikalisme, Said Agil menyatakan bahwa Non Muslim boleh ikut Pemilihan Gubernur di Jakarta, karena Pilgub bukan pemilihan Imam Masjid.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-ronde-6.html Ronde 6

7. Tgl 21 Desember 2012 di Harian Rakyat Merdeka, Said Agil menyatakan bahwa boleh mengucapkan Selamat Natal demi kerukunan umat beragama, dan menjamin bahwa semua warga NU tidak akan luntur imannya dengan ucapan Selamat Natal.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-agil-vs-salim-selon-jilid-7.html Ronde 7


8. Dalam acara Haul Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri Pendiri Al-Khoiroot di Palu - Sulteng, juga ceramahnya di berbagai kesempatan lain, Said Agil menyatakan bahwa sebab utama Rasulullah SAW diutus di tengah bangsa Arab adalah karena bangsa Arab bangsa yang PALING BIADAB, dan Nabi berasal dari Suku Quraisy karena Quraisy PALING BIADABNYA bangsa Arab.

9. Dalam sebuah acara dialog di NET TV tahun 2015, Said Agil mengatakan Nabi Muhammad SAW dan para Shahabatnya menyebarkan Islam di Timur Tengah, Romawi dan Persia dengan PEPERANGAN.



10. Tgl 14 Juni 2015 dalam wawancara di pembukaan acara istighasah menyambut Ramadan dan pembukaan munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, dan juga dalam beragam kesempatan dia menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan ISLAM ARAB, menurutnya Islam Nusantara adalah Islam yang santun dan lembut, sedang Islam Arab adalah Islam yang KERAS dan RADIKAL.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/said-aqil-siradj-islam-indonesia-bukan.html

11. Tgl 16 Mei 2012 dalam acara TV dan wawancara media, saat FPI menolak pagelaran Konser Artis Penyembah Setan dari Amerika Serikat, LADY GAGA, di Jakarta, Said Agil justru mendukung pagelaran tersebut, sekaligus mendorong pemerintah untuk membubarkan FPI.



12. Dalam rekaman ceramah yang diunduh dan disebarkan via Youtube, Said Agil MENGKRITIK AHLUL BAIT karena AHLUL BAIT bukan Ahlul ilmi dan bukan Ahlul Hadits tapi POLITIKUS, termasuk Ali, Al-Hasan, Al-Husein, Ali Zainal Abidin As-Sajjad, Al-Bagir dan Ash-Shoodiq. Dan Said Agil menyatakan bahwa Politisi yang baik cuma empat, yaitu : Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Solahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih. Selain itu tidak baik. Lalu Said Agil menyatakan bahwa yang membangun peradaban Islam hingga menyebar ke seluruh dunia adalah ilmunya Ahlul Ilmi dan Ahlul Hadits, yg kebanyakan mereka NON ARAB, bukan lewat Politik Zu'amaa para Khalifah. Selanjutnya, Said Agul menyatakan Imam Ali BERSALAH dalam Perang Jamal, karena ribuan umat Islam jadi korban, dan sikap Ali dalam surat-suratnya ke Mua'wiyah TIDAK ETIS, karena menggunakan sebutan YA 'ADUWALLAH.



13. Tgl 27 Agustus 2012 Saat para Habaib dan Ulama Jakarta bergabung dengan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) untuk lengserkan Si Ahok, maka dengan semangat Said Agil mendukung Ahok jadi Gubernur Jakarta, karena menurutnya : "Lebih baik gubernur Non Muslim tapi jujur daripada gubernur muslim tapi korup."

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/catut-ibnu-taimiyah-said-aqil-siroj.html

14. Dalam ceramahnya yang diunggah dan disebarkan di Youtube, Said Agil menyatakan bahwa Jenggot bukan Sunnah Nabi SAW sehingga tidak perlu ditiru, bahkan Jenggot merupakan identitas ketidak-cerdasan, semakin panjang jenggot seseoarang semakin tidak cerdas.


15. Tgl 22 Oktober 2015 di Acara Kirab Hari Santri Nasional Dalam rangka perang lawan Jenggot, Said Agil memberi ceramah dalam peringatan Hari Santri Nasional dengan latar belakang gambar Pendiri NU Almarhum wal Maghfur Lahu Hadrotus Syeikh KH Hasyim Asy'ari yang sengaja dihilangkan jenggotnya.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/akhirnya-jenggot-pendiri-nu-dicukur-jin.html

16. Dalam sebuah dialog di acara satu jam lebih dekat TV One yang diunggah dan disebarkan di You Tube, Said Agil menyatakan bahwa dalam Shalat yang penting Khusyu, sedang merapatkan Shoff tidak perlu karena hanya adat dan tradisi Arab saja.



17. Di salah satu video yang tersebar di Youtube, Said Agil juga mengatakan bahwa Cadar itu bukan pakaian Islam, tapi hanya pakaian Arab.


18. Said Agil menghina ormas Islam lain, dalam hal ini menghina Muhammadiyah goblok.

19. Said Agil mengatakan bahwa sampai saat ini malaikat Munkar Nakir belum bisa menanyai Gus Dur di alam kubur.


 

 20. Said Agil memuji-muji tradisi kaum Syiah, sambil menghina warga NU dengan menyebut mereka goblok-goblok.



21. Said Agil mengklaim ormas NU yang paling baik, dibanding ormas Islam yang lain.

22. Said Agil mengatakan dirinya senang jika ada Iblis ikut sholat berjamaah di dalam shof sholat yang tidak rapat.

23. Tgl 14 Desember di berbagai media , saking bernafsunya bela Kemusyrikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Said Agil lagi-lagi menyampaikan keinginannya untuk pembubaran FPI.

https://ganyangpki.blogspot.co.id/2017/02/bela-dedi-mulyadi-said-aqil-siradj.html

Bela Dedi Mulyadi, Said Aqil Siradj Ingin FPI Dibubarkan

 

KH Said Aqil bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di Pendopo Bupati, 

Purwakarta (SI Online) - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi terus mengundang sejumlah tokoh kontroversial untuk mendukung tindak-tanduknya yang dinilai oleh kalangan ulama telah masuk pada kemusyrikan. Setelah sukses mengundang budayawan Emha Ainun Najib dan Cak Nun pun habis-habisan membela Dedi, pada Senin (14/12) kemarin, Dedi mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj. Hasilnya, habis-habisan pula Said Aqil mendukung Dedi dan sebaliknya menyalahkan FPI. 
 
Bukan hanya menyalahkan, Said Aqil menegaskan bila dirinya sudah lama menginginkan Front Pembela Islam (FPI ) dibubarkan. 
 
"Jangan dihiraukan tudingan tak berdasar seperti itu agar tidak memicu konflik. Tetapi, kalau meresahkan dan memprovokasi, lebih baik ormas seperti itu (FPI) dibubarkan saja," ungkap Said Aqil saat berceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Pendopo Bupati Purwakarta, Senin (14/12/2015), seperti dikutip Tempo.co. 
 
Bukan hanya saat ceramah, penegasan Said kembali disampaikan usai ceramah. "Sejak lama PBNU mendorong supaya FPI itu dibubarkan," ujar Said seperti dikutip Republika.co.id. 
 
Said mengklaim, Indonesia tidak memerlukan ormas seperti FPI. yang dia tuding mengklaim diri sebagai organisasi aliran garis keras. Menurutnya, aliran seperti ini, sangat tak cocok diterapkan di tanah air. Apalagi, Indonesia bukan negara yang sedang berperang. Melainkan, negara cinta damai. "Jadi, buat apa ada ormas seperti itu," ujarnya.
 
Karena itu, terkait peringatan keras yang disampaikan Habib Rizieq Syihab atas budaya syirik di Purwakarta, Said Aqil meminta masyarakat Purwakarta, Jawa Barat, tidak menghiraukannya. 
 
Menurut Said Aqil, umat Islam di Purwakarta yang ia pantau sejauh ini tidak dalam kondisi seperti yang digambarkan FPI. Sebab, kegiatan keagamaan di Purwakarta tumbuh subur dan tak pernah ada keluhan apa pun. 
 
Kata Said, ihwal topik kebudayaan yang selalu diusung Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam berbagai kesempatan, sedikit pun tak ada yang bertentangan dengan masalah akidah Islam, apalagi sampai menimbulkan darurat akidah seperti ditudingkan FPI. 
 
Pria kelahiran Cirebon tersebut beralasan, penyebaran dan dakwah Islam di Indonesia jangan sampai meninggalkan pendekatan budaya dan menimbulkan perang, apalagi pertumpahan darah. Mengingat Indonesia memiliki keberagamaan suku dan budaya.
 
“Islam adalah agama yang terbuka dengan budaya. Islam datang ke Indonesia sejak berdirinya Majapahit dan berkembang menggunakan pendekatan budaya tanpa adanya paksaan,” Aqil menjelaskan.
 
Menurut Aqil, Nabi Muhammad pada saat berdakwah dan menyebarkan Islam di Madinah, misalnya, tetap berupaya menghormati budaya yang tumbuh dan berkembang di sana dengan tetap menghormati peradaban dan membangun asimilasi budaya. Sebab, di sana banyak terdapat suku bangsa, baik yang Muslim maupun non-Muslim.
 
"Rasulullah selalu memperlakukan masyarakatnya sama. Tidak menghendaki permusuhan, kecuali yang melanggar hukum," Aqil menegaskan.
 
Ia mengimbau agar cara berdakwah selalu mengedepankan ketenangan dan kedamaian seperti yang dicontohkan Rasulullah ketika berdakwah di Mekah. "Selama 13 tahun berdakwah, Rasulullah tidak langsung menghancurkan berhala. Namun beliau selalu lebih mengedepankan ketenangan dalam berdakwahnya," ia menambahkan.
 
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, budaya Sunda tidak pernah bertentangan dengan ajaran Islam. Ia mengharapkan tidak terjadi salah tafsir ketika budaya Sunda dipakai dalam beragama.
 
“Contohnya, masyarakat Sunda yang membangun persenyawaan diri dengan alam, seperti tanah, air, udara, dan matahari. Itu budaya. Dari persenyawaan tersebut lahirlah bentuk kepasrahan kepada qadha dan qadar,” Dedi menjelaskan buah akal pikirnya.
 
Pernah Sebut Dedi Kyai Haji
 
Ternyata, bukan kali ini saja Said Aqil memuja-muji Dedi Mulyadi. Seperti dilaporkan Rmoljabar.com, pada Rabu (03/06/2015) lalu Said Aqil malah pernah menyebut Dedi dengan panggilan Kyai Haji Dedi Mulyadi. 
 
Hal ini lantaran Said Aqil mengaku kagum dengan ide-ide brilian yang disampaikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan dalam Halaqoh Kebangsaan di Bale Sawala Yudistira, Rabu (03/6).
 
"Yang saya hormati KH Dedi Mulyadi. Nggak ada kepentingan apa-apa, saya kagum dengan ide-ide brilian pak Dedi. Ide yang disampaikannya sesuai dengan tujuan NU," ujar Said.
 
Salah satu masukan Bupati Dedi kepada NU yaitu, terkait fatwa yang sifatnya menyejahterakan rakyat. Seperti contohnya, ulama bekerjasama dengan pemerintah membuat fatwa misalnya di Purwakarta, masyarakat di Purwakarta mewajibkan saat bulan puasa memakan pisang Bagja hasil tanah rakyat.
 
"Itu akan menyejahterakan rakyat dengan tidak sengaja. Karena di sini masyarakat banyak yang menanam pisang Bagja. Atau hal lain yang esensinya menyejahterakan rakyat," ungkap Dedi Mulyadi yang juga tercatat sebagai pengurus NU Purwakarta ini.

Akhirnya Jenggot Pendiri NU Dicukur JIN




Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyampaikan sambutan dalam Kirab Hari Santri Nasional digelar di Tugu Proklamasi, Jalan Raya Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (22/10). (foto: liputan6.com)
Kirab Hari Santri Nasional digelar di Tugu Proklamasi, Jalan Raya Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (22/10). Meskipun ada pro kontra terkait penyelenggaraan Hari Santri Nasional tetap berjalan dengan mengundang ribuan jemaah umat Islam.
Hadir dalam penyelenggaraan itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, dan sejumlah tokoh agama dari berbagai organisasi masyarakat (Ormas) Islam.
Dalam kesempatan itu, Jenderal Gatot menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia pada masa perjuangan tidak lepas dari peran para ulama, jauh sebelum lahirnya TNI. Sementara Ketua PBNU Said Aqil mengatakan meski Hari Santri Nasional penuh dengan pro dan kontra, tidak berpengaruh pada penyelenggaraan acara.
Sekitar 50 rombongan Kirab Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) tiba di Tugu Proklamasi untuk menghadiri peringatan Hari Santri Nasional yang disambut oleh ribuan pelajar serta santri dari pondok pesantren dari berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya.
JENGGOT KYAI HASYIM 
Usai acara, masyarakat dikejutkan dengan beredarnya foto Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Kirab Hari Santri Nasional tadi. Pasalnya, ada yang janggal dalam foto pendiri NU tersebut. Foto ukuran besar KH. Hasyim Asy’ari yang dijadikan backdrop acara terlihat tidak berjenggot, seolah habis dicukur bersih. Padahal pada foto aslinya yang sudah masyhur, Kyai Hasyim nampak menggenakan jenggot.
Tak pelak, hal ini langsung menimbulkan gelombang protes. Mereka yang tidak terima, menuding panitia telah berbuat kurang ajar kepada Kyai Hasyim. Sebagian lagi mengait-kaitkannya dengan ucapan Said Aqil beberapa waktu lalu soal jenggot.
Pada sebuah rekaman yang beredar di Youtube beberapa waktu lalu, Said Aqil mengatakan bahwa jenggot akan membuat seseorang menjadi goblok. Makin panjang jenggot seseorang, maka makin goblok, katanya dalam rekaman itu.
Muncul dugaan, panitia acara sengaja menampilkan foto Kyai Hasyim Asy’ari yang sudah “dicukur” untuk menyesuaikan dengan pendapat dan sikap Said Aqil yang anti jenggot. Tentu saja, hal ini masih perlu dikonfirmasi kepada panitia.
Jangan-jangan jenggot Sang Kyai dicukur JIN (Jemaat Islam Nusantara) alias ANUS (Aliran Nusantara) … ???
Wallahu a’lam.

Catut Ibnu Taimiyah, Said Aqil Siroj Dukung Jokowi-Ahok



JAKARTA (VoA-Islam) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan, Pilgub DKI Jakarta sama sekali tidak ada masalah latar belakang keagamaan seorang pemimpin. “Keadilan bersama non-muslim itu lebih baik daripada ketidakadilan bersama muslim,” ujarnya dalam SMS yang tersebar.
Said pun mencatut Ibnu Taimiyah dalam Kitab Siyasah Syar’iyah yang menegaskan, kalau orang yang adil meski non muslim jadi pemimpin, orang Islam pasti akan pula mendapat keadilan. Sebaliknya, jika ada pemimpin beragama Islam yang zalim, orang Islam sekalipun akan dizalimi.
Berdasarkan kaidah tersebut, menurut Said, bagi NU, pasangan Jokowi-Ahok tidak bermasalah. “”Silahkan saja menang, bagi NU tidak ada masalah,” tandasnya.
Menanggapi statemen Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang nyeleneh itu, Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) Ustadz Fahmi Salim mengatakan, mengutip ungkapan Syakih Ibnu Taimiyah tentu harus didudukkan secara adil dan proporsional, tidak boleh dan tidak bisa statemen ini menganulir prinsip ajaran al Quran, yang jelas-jelas termaktub di dalam ayat-ayat Madania, seperti QS. al-Imran, QS. an-Nisa , dan QS. al-Maidah.
“Dalam ayat tersebut, jelas melarang dan tidak merekomendasikan non Muslim sebagai pemimpin umat Islam. Kecuali, jika umat Islam dalam kondisi takut dan minoritas,” ujar Ustadz Fahmi Salim.
Ini merupakan ungkapa satire, yakni Allah akan menolong dan memperkuat kekusaan yang adil meski kafir, dan tidak menolong pemerinah yang zalim meski ia mukmin. “Ini memang benar. Kita ketahui, adil adalah prisnip dasar dari sebuah pemerintahan, dan ini sifatnya universal.”
Islam itu objektif. Kita tidak akan KKN, menerima pemimpin zalim meski ia zalim. Penguasa Islam itu harus adil. Jadi, setelah muslim, ia harus bersikap adil sebagai bentuk pilar kekuasaan.
“Karena itu keliru jika mengangkat pemimpin non muslim tanpa alasan yang benar. Kenapa harus yang non muslim, jika masih ada pemimpin muslim yang adil.  Sepertinya ada upaya untuk menstigmatisasi dan menggiring opini, seolah pemimpin muslim itu zalim. Fauzi Bowo itu bukan pemimpin zalim. Kecuali, jika Fauzi terbukti zalim, akidah dan akhlaknya rusak, maka bolehlah kita tidak memilihnya, meski dia muslim,” kata Fahmi.
Jakarta Dibangun oleh Ulama
Pernyataan Ketua PBNU, Said Aqil Siroj, bahwa sama sekali tidak ada masalah latar belakang keagamaan seorang pemimpin, juga mendapat reaksi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI, KH Kholil Ridwan, mengatakan bahwa dalam sejarahnya, Jakarta didirikan oleh Fatahilah, seorang ulama besar yang berhasil menumpas tentara Portugis hingga berdirinya Kota Jakarta, yang dahulu dinamai Jayakarta dan Sunda Kelapa.

"Atas dasar itulah, Jakarta ini sebenarnya warisan atau amanah dari seorang ulama besar yang berhasil mengalahkan kolonial Portugis. Dengan begitu, umat Islam di Jakarta ini wajib mempertahankan kepemimpinan,” kata Kholil kepada Voa-Islam.
Menurutnya, umat Islam di Jakarta jumlahnya mayoritas dibanding umat lainnya. Dengan begitu, kata dia, Jakarta idealnya dipimpin oleh kalangan mayoritas. “Seorang muslim ini tidak hanya memimpin di dalam masjid, akan tetapi di luar masjid pun harus jadi pemimpin. Kalau masih ada pilihan dari kaum muslim kenapa tidak?” tandasnya.
Kemudian, bicara soal seorang pemimpin zalim, lanjut Kholil, sejauh ini Fauzi Bowo dinilai bukan tipikal seorang pemimpin yang zalim. “Sehingga (Fauzi) layak untuk dipilih terutama oleh orang-orang muslim,” tegasnya.

Kholil tidak sependapat dengan salah satu statmen Said yang mengundang kontroversi, yakni mengutip kaidah Fiqih Ibnu Taimiyah yang dalam kitab Siyasah Syar'iyah yang menyatakan, kalau orang yang adil meski non muslim yang memimpin, maka orang Islam itu pasti mendapatkan keadilan pula. Sebaliknya, jika ada pemimpin beragama Islam yang zalim, maka orang Islam sekalipun akan dizalimi.

Said Aqil Siradj: Islam Indonesia Bukan Islam Arab

Said Aqil Siradj: Islam Indonesia Bukan Islam Arab Foto: Bagus Prihantoro Nugroho

Jakarta - Dalam pembukaan acara istigasah menyambut Ramadan dan pembukaan munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, 14 Juni lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj mengatakan NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara. Istilah ini merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara, yang disebutnya dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.

"Para wali atau ulama leluhur kita berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, tanpa kekerasan. Menunjukkan Islam itu berperadaban, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya," kata Said dalam wawancara dengan majalah detik di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (23/6) lalu.

Bukan cuma Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyokong ide ini. Cendekiawan Azyumardi Azra pun menilai model Islam Nusantara dibutuhkan masyarakat dunia saat ini karena ciri khasnya mengedepankan "jalan tengah".

Selain memaparkan pandangannya ihwal Islam Nusantara, Kang Said — begitu ia disapa — memaparkan persiapan Muktamar NU pada Agustus nanti. Ia pun menyatakan kesiapannya memimpin PBNU lagi dan siap bersaing dengan kandidat lain, termasuk adik kandung Gus Dur, KH Salahudin Wahid. Berikut ini petikan perbincangannya.

Bagaimana Anda menyikapi kontroversi wacana Islam Nusantara yang dilontarkan Preside Jokowi?

Islam Nusantara sebenarnya bukan istilah yang harus diperdebatkan. Kita tidak mengada-ada dengan terminologi itu seolah baru. Kami hanya mengingatkan, Islam yang saat sekarang, yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, beradab, dan berbudaya, adalah Islam kita di Nusantara ini.

Kita lihat keadaan umat Islam di Timur Tengah. Perang saudara tidak berkesudahan. Di Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Afganistan, Mesir, Libya.

Karena itu, NU mengangkat simbol Islam Nusantara, artinya Islam atau umat Islam yang berkembang di kawasan Nusantara, yang kita warisi dari para wali atau ulama leluhur kita. Mereka telah berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara, mereka berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan lain. Berhasil mengislamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya akhlakul karimah. Menunjukkan Islam itu beradab, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya.

Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara adalah Islam yang mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insaniah.

Islam Nusantara modelnya seperti apa?

Islamnya kuat karena didukung budaya. Budaya menjadi lestari karena dipoles oleh Islam. Kecuali tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, itu jelas kita tolak. Misalnya dalam ritualnya ada hubungan seks bebas. Tapi kirim doa orang mati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1.000 hari kita lestarikan. Kita isi dengan tahlilan, zikir-zikir kepada Allah.

Para Wali (Songo) terkenal jago sekali dalam hal (memadukan budaya dan nilai-nilai Islam). Sunan Kudus melarang orang Kudus menyembelih sapi untuk menghormati perasaan orang Hindu yang baru masuk Islam tapi masih tersinggung melihat sapi disembelih. Sampai sekarang, di Kudus tidak ada soto sapi, yang ada soto kerbau.

Begitu pula kalau masuk masjid atau musala, kakinya harus bersih, caranya bukan ditulis lepas sandal, batas suci. Tidak begitu. Di depan pintu masuk ada air. Jadi orang masuk masjid pasti kakinya nyemplung air. Dakwah model itulah yang kita maksud Islam Nusantara. Menggabungkan antara Islam dan budaya.

Ada preseden Islam yang terbuka dengan budaya?

Seperti dulu juga sahabat (Nabi Muhammad) sangat terbuka terhadap budaya luar. Contohnya kubah masjid. Itu bukan dari Arab, tapi dari Romawi. Setelah Islam menyebar ke Barat, melihat istana, gedung-gedung besar, gereja pakai kubah, maka diambil kubah itu untuk masjid, sehingga tidak banyak tiang di dalamnya.

Begitu pula kalau mau detail ilmu kalam. Islam itu sebenarnya sistem dan metodenya terpengaruh filsafat walaupun isinya adalah dalam rangka mentauhidkan Tuhan. Tapi sistem berpikirnya terpengaruh filsafat Yunani. Itulah Islam yang terbuka.

Islam Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus pakai sorban. Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia. Hal terpenting adalah substansinya, yaitu berakhlak Islam, beribadah. Gamis, celana, sarung, tidak urusan itu.

Menghargai budaya dan tradisi membuat Islam Nusantara dicap sinkretis….

Kita tidak bisa hanya (berpegang pada) Alquran-hadis saja. Akal pun harus dipakai, yakni ijma dan qiyas. Ahlus Sunnah Waljamaah itu mensinergikan antara Alquran, hadis, dan akal.

Akal itu kalau akalnya orang banyak kolektif namanya ijma atau konsensus. Kalau akalnya sporadis atau satu-satu namanya qiyas. Alquran-hadis sebagai dasarnya. Semua ilmu pengetahuan dalam Islam adalah kreativitas manusia. Nabi Muhammad tidak mengajarkan ilmu. Tetapi, supaya ibadah kita atau berislamnya seperti Nabi Muhammad, kita harus dengan ilmu.

Baca Alquran seperti Nabi, harus dengan ilmu tajwid. Kalau yang mengatakan yang segala macam itu adalah bid'ah, berarti semua ilmu yang kreativitas manusia artinya bi'dah, dong. Ilmu tajwid, tafsir, hadis, balaghah, sastra Arab, teologi, ilmu kalam tidak ada di zaman Nabi Muhammad.

Jangankan ilmu, nulis Alqurannya saja tidak ada titiknya. Saya tidak bisa baca. Yang bikin titik (di Al-Quran) itu ulama, bukan Nabi, bukan sahabat.

Islam kita itu yang dibawa Wali Songo. Membawa keharmonisan dan kedamaian. Sama sekali tidak membawa radikalisme atau mengkafir-kafirkan orang. Tidak sama sekali.

Terkait rencana muktamar NU, sejauh mana persiapannya?

Sudah sampai pada materi yang akan dibahas. Di komisi bahtsul masail, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat, atau bersifat bahtsul masail qonuniah, menyorot undang-undang pemerintah mana yang tidak berpihak pada rakyat kita kritik. Ada juga rekomendasi. Persiapan secara materi dan logistik saya sudah lihat di Jombang sangat luar biasa. Pemerintah Jawa Timur sangat antusias, Kapolda Jawa Timur akan mengerahkan 15 ribu polisi untuk mengamankan.

Ada kritik setelah munas terkait mekanisme ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang dinilai tak sesuai dengan AD/ART NU....

Mereka tidak baca AD/ART namanya. Coba kalau dibaca, rois 'aam itu dipilih oleh muktamirin dengan musyawarah mufakat atau voting. Ahlul halli wal aqdi itu musyawarah mufakat. Malah pilihan langsung itu atau voting.

Suara negatif itu memperlihatkan ketidakpuasan?

Biasa, kalau mau muktamar panas, itu biasa. Tidak apa-apa. Dinamika berorganisasi.

Alasan muktamar menerapkan mekanisme AHWA?

Biar tidak gaduh. Ini bukan hanya di PB (pengurus besar), (tapi) sampai pada wilayah dan cabang. Kita lihat akhir-akhir ini sampai di tingkat cabang atau wilayah ada pihak-pihak ketiga yang menggunakan uang untuk kepentingan orang-orang tertentu yang bisa diajak kerja sama. (AHWA) ini untuk menghilangkan itu semua.

Ahlul halli wal aqdi adalah sistem Islam. Khulafaur Rasyidin, Abubakar, Umar, Usman, dan Ali, terpilih menggunakan ahlul halli wal aqdi, musyawarah mufakat. One man, one vote, itu metode Barat kan, sehingga semua ulama yang menulis di kitab kuning cara memilih pemimpinnya ahlul halli wal aqdi. Mengapa? Karena menekankan pada kualitas. Tapi, kalau langsung, itu kuantitas, sehingga suara profesor dengan tukang sampah sama.

Seburuk apa praktek uang dalam setiap pemilihan pengurus di NU?

Kalau di PBNU mungkin tidak, ya. Tapi kalau di cabang dan wilayah, misalnya bupatinya mendukung si A. Kalau di PBNU kita masih punya idealisme. Tidak pantas sebenarnya di NU itu ada politik uang.

Mekanisme AHWA ini pernah diterapkan pada muktamar sebelumnya?

Di Situbondo, Gus Dur terpilih menggunakan mekanisme ini. Gus Dur jadi ketua umum diangkat oleh tiga kiai: Kiai As'ad (Syamsul Arifin), Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Ali Ma'sum. Awal-awal berdiri NU juga semua pakai musyawarah. Kita lihat partai saja sudah aklamasi semua.

Anda akan maju lagi?

Ya… ya... insya Allah siap kalau dipercaya.

Agenda ke depan kalau terpilih?

Baru kali ini kita membangun 24 universitas. Dulu universitas banyak, tapi milik pesantren. Kalau yang kita bangun milik NU, milik organisasi. SMK ada 62. Saya berfokus pada pendidikan. Saya kirim anak ke luar negeri. Ke Australia 10, Amerika 5, Maroko 45, Sudan 100-an, Turki 15. Kita konsolidasikan madrasah-madrasah di bawah NU, namanya Maarif, ternyata ada 13 ribu madrasah. Baru kali ini kita data.

Tidak dibawa mendekat ke kekuatan politik tertentu?

Enggak… enggak…. Adapun pribadi pengurus pasti semua berpolitik. Saya pribadi PKB. Bukan berarti NU saya ajak ke PKB. Ada yang Golkar, seperti Pak Slamet Effendi, ada yang PPP, ada yang PDIP (Bendahara NU).

Ada kabar Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid) juga akan maju?

Ya, Gus Sholah maju. Pak (Muhammad) Adnan, mantan Ketua PWNU Jawa Tengah, dan Ketua Lembaga Zakat Masyuri Malik juga akan maju. Tidak apa-apa. Semua terserah muktamirin. Coba kalau ada muktamar terus enggak ada yang mau maju, kan kacau itu.

Kalau pemilihan Ketua Umum pakai AHWA juga?

AHWA buat rois 'aam. Ketua umum tetap voting. Tidak layaklah kalau antar-kiai sepuh diadu. Hiruk-pikuk, gaduh. Seperti di (Muktamar) Makassar itu keras sekali. Kalau ketua umum tidak apa-apa, masih koboi.

Oh, ya, apa pendapat Anda soal gerakan NU Garis Lurus?

Itu cara berpikir orang yang masih sempit, belum paham tantangan ke depan sebesar apa. Kalau nyusun pengurus hanya kiai semua dari pesantren ya enggak jalan. Kalau dituduh ada yang liberal, ada yang genit dalam berpikir seperti Pak Masdar (F. Mas'udi), ada yang dituduh PKI karena melakukan rekonsiliasi, itu pekerjaan kita semua. Bagi kiai yang ndeso itu, enggak bisa paham hal seperti itu. Garis lurus, jadi katanya NU yang sekarang itu bengkok gitu?

Said Agil vs Salim Selon (Jilid 7)



 
Jakarta – KabarNet: Hari NATAL adalah bagian dari prinsip-prinsip agama Nasrani, mereka meyakini bahwa di hari inilah Yesus Kristus dilahirkan. Di dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah Christmas, Christ berarti Kristus sedangkan Mass berarti perayaan atau perkumpulan jadi bahwa pada hari itu banyak orang berkumpul mengingat atau merayakan hari kelahiran Kristus. Dan Kristus menurut keyakinan umat Kristiani adalah Allah yang menjelma.
Ucapan selamat NATAL bukan sekedar penghormatan atau bagian dari toleransi beragama, namun merupakan persoalan yang sangat PRINSIP dalam agama Islam dan jika diucapkan oleh seorang muslim dapat merusak AQIDAHNYA. Tentu saja pemberian ucapan selamat NATAL baik dengan lisan, telepon, maupun sms berarti orang tersebut sudah memberikan pengakuan terhadap ketuhanan yesus dan rela dengan prinsip-prinsip agama nasrani.
Artinya, seorang muslim yang mengucapkan SELAMAT NATAL, walaupun TIDAK ADA NIAT pengakuan terhadap ketuhanan yesus, tetap saja hal itu dilarang. Sebab Allah Ta’ala sangat murka dengan ritual penyekutuan Allah, seperti peringatan HARI KELAHIRAN YESUS. Bagaimana seorang muslim ikut serta mengucapkan SELAMAT kepada mereka yang jelas-jelas melecehkan Allah Ta’ala?…Maka jelaslah sudah, sekalipun dalam ucapan itu TIDAK ADA NIAT, pantaskah kita ikut rela dan senang terhadap mereka yang melecehkan dan ingkar terhadap keesaan Allah SWT dengan alasan toleransi?..
Apalah artinya mengucapkan sepatah kata dengan alasan toleransi, namun akhirnya sepatah kata itu pula yang akan menjerumuskan kita ke dalam jurang JAHANNAM. Na’udzubillah Min Dzalik!..
Namun Seperti biasa, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) PBNU Prof. DR.KH.Said Agil Siradj kembali mengundang masalah. Kali ini ia mengatakan, ucapan selamat NATAL boleh saja disampaikan kepada umat Kristiani demi kerukunan umat beragama. Ia mengatakan, dirinya selalu mengucapkan NATAL kepada tetangganya yang umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Seolah ia tidak memperdulikan hal-hal yang membahayakan AQIDAH umat Islam.
Bahkan Aqil Siradj berani menjamin dan memastikan warga NU imannya tidak akan luntur. Hal itu dikatakan saat wawancara dengan Harian Rakyat Merdeka, Jumat 21 Desember 2012. Saat ditanya Kalau di NU bagaimana? Ia menjawab: “Kalau saya yakin umat Islam, terutama warga NU tidak luntur imannya kepada Allah walaupun mengucapkan selamat NATAL. Saya pastikan akidahnya tidak akan bergeser dan berkurang atau luntur imannya kepada Allah. Maka menurut saya, tidak perlu dilarang seperti itu”…
Rupanya Prof.DR.KH.Said Agil Siradj ini tidak memahami dengan benar makna NATAL, padahal peringatan hari NATAL adalah Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan. Bahkan yang lebih hebat, Profesor ini bisa memastikan akidah warga NU tidak akan bergeser. Padahal Rasulullah SAW selalu mengingatkan kepada umatnya untuk menjaga KEIMANAN. Beliau SAW tidak menjamin keimanan para sahabat walaupun Beliau SAW memuji akan keimanan para sahabat. Ternyata Profesor ini lebih hebat dan berani menjamin keimanan warga NU.
Pernyataan Ketua PBNU yang bertitel Profesor tersebut mendapat tanggapan dari Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Salim Selon bin Umar Al-Attas. Ia menuturkan, mengucapkan SELAMAT NATAL kepada orang kafir hukumnya HARAM!, sebab berarti merestui dan mengakui kelahiran Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan, ASTAGHFIRULLAH!..
“Secara Terminologi, dalam Ensiklopedi Americana dan Britanica bahwa NATAL itu artinya Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan. Jadi, SELAMAT NATAL berarti Selamat Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan. Apa itu tidak melunturkan iman?!.. Karenanya, HARAM umat Islam ucapkan SELAMAT NATAL. Jika ada siapa pun ucapkan SELAMAT NATAL kepada umat Islam, jawab saja yang tegas: “LAM YALID WA LAM YUULAD”, pesan Habib Salim kepada redaktur fpi.or.id, Jum’at, 08 Shafar 1434 H.
Oleh karena itu, seorang muslim wajib bersikap tegas dan jelas kepada mereka yang menuduh Allah punya anak. Mana mungkin seorang muslim sejati akan ikut serta merayakan, mengucapkan selamat atas perayaan NATAL yang jelas-jelas menyekutukan Allah?..
Ingat! merayakan Hari NATAL bukan bentuk toleransi antar umat beragama, tapi bentuk pencampur-adukkan aqidah antara HAQ dengan BATHIL dan menjerumuskan kalangan awam dari umat Islam yang kebanyakan lemah iman dan hal itu tidak akan menyuburkan keharmonisan hubungan antar Islam dengan Nashrani, tapi akan menyuburkan PENDANGKALAN AQIDAH yang bisa mengantarkan kepada pemurtadan.

Said Agil vs Salim Selon (Ronde-6)



 
Jakarta – KabarNet: Tak henti-hentinya Ketua Umum Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengeluarkan pernyataan yang menggelitik hati umat Islam. Kali ini Said Aqil siradj mempertegas kembali ucapannya, bahwa orang kafir boleh jadi Gubernur, sebab ini pemilihan Gubernur, bukan pemilihan Imam Masjid yang mengharuskan figurnya beragama Islam.
“Ini pemilihan gubernur, bukan seperti pemilihan imam masjid. Kalau imam masjid memang harus Islam,”  kata Aqil setelah penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) penanggulangan radikalisme antara PBNU dengan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), di Semarang, Minggu (14/10/2012).
Atas pernyataan KH.Said Agil Siradj tersebut, Ketua FPI DKI Jakarta Habib Salim Selon Alattas kembali angkat bicara, menurutnya pernyataan Said Agil, yakni “Kafir boleh jadi Gubernur! ini pemilihan Gubernur, bukan pemilihan Imam Masjid!”, Habib Selon dengan santai menjawab, jika demikian, berarti orang kafir pun boleh saja menjadi Ketua Umum PBNU.
“Kalau begitu orang kafir boleh dong jadi Ketua Umum PBNU, bukan Ketua Masjid ini ??!!, pantas ada NU Cabang Katholik di Kalbar yang dipimpin Gubernur Kalbar Cornelis, sesuai pernyataan Said Aqil dalam acara MTQ Internasional NU di Pontianak beberapa bulan lalu”, kata Habib Selon kepada redaksi fpi.or.id, Senin (15/10/2012).
Di kesempatan yang sama, Habib Selon menyatakan, bahwa Said Aqil dinilai tidak memahami jabatan ex officio yang akan dijabat oleh Wakil Gubernur. “Kasihan Said Agil, dia tidak paham bahwa saat Si Kristen Ahok dilantik jadi Wagub DKI Jakarta, maka berdasarkan perundangan Si Kristen Ahok secara otomatis jadi KETUA PEMBINA sejumlah lembaga Islam di bawah Pempov DKI Jakarta, antara lain: Dewan Masjid Indonesai (DMI), Badan Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia (BPPMI), Jakarta Islamic Center (JIC), Koordinasi Da’wah Islam (KODI), Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (BAZIS), Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ), Lembaga Pengembangan Tilawatil Qu’an (LPTQ)”, katanya. “Kasihan Profesor kok tidak cerdas ??!!”, cetus Habib Selon sambil berlalu.

Said Agil vs Salim Selon, Ronde 5


 
Jakarta – KabarNet: Menjelang Pilgub DKI Jakarta, tanggal 20 September 2012 nanti, Umat Islam dihimbau agar hati-hati dalam memilih pemimpin. Perlu diketahui, bagi warga Muslim haram hukumnya memilih pemimpin dari non-Islam. Bukan hanya untuk Presiden, gubernur dan Walikota/bupati, bahkan untuk pemimpin tingkat RT sekali pun.
Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Al-Ijma’ yang melarang umat Islam untuk menjadikan orang di luar Islam sebagai pemimpin. Hal tersebut sebelumnya telah dibeberkan dalam Maklumat Politik FPI Terkait Pilgub DKI Jakarta. Bahkan DPP – FPI sejak berdiri pada Tahun 1998 silam, mengharamkan umat Islam Indonesia untuk memilih, mengangkat dan menjadikan orang non Islam sebagai pemimpin di semua tingkatan pemerintahan, kecuali di wilayah minoritas muslim.
Namun lagi-lagi, Ketua Umum PBNU Prof. DR.KH.Said Agil Siraj melontarkan pernyataan yang tak waras. Ia menyatakan kepada sejumlah media massa bahwa tidak ada problem bagi non muslim menang pilkada dan memimpin DKI Jakarta, sambil mencatut pernyataan Ibn Taimiyyah dalam kitab As-Siyaasah Asy-Syar’iyyah bahwa keadilan bersama pemimpin non-muslim jauh lebih baik daripada kezaliman bersama pemimpin muslim. Ia pun berargumentasi dengan kesiapan Gubernur Kafir Kalbar membantu pelaksanaan MTQ Internasional NU di Pontianak beberapa waktu lalu yang menelan biaya tidak kurang dari lima milyar rupiah.
Atas pernyataan KH.Said Agil Siraj tersebut, Ketua FPI DKI Jakarta Habib Salim Selon Alattas angkat bicara, menurutnya Said Agil adalah orang yang memusuhi Wahabi dan membenci Syeikh Ibn Taimiyyah, anehnya Said Agil malah mencatut namanya untuk kepentingan membela diri.
“Sejak kapan Said Agil jadi pengikut Ibn Taimiyyah ?! Sejak kapan NU dibawa jadi Wahabi ?! Setahu ane, Said Agil itu paling benci terhadap Ibn Taimiyyah dan sangat memusuhi Wahabi. Kok, justru kini jadi Tukang Catut namanya ?! Lagi pula Ibn Taimiyyah tidak pernah menghalalkan orang kafir memimpin umat Islam. Pernyataan Ibn Taimiyyah tersebut bukan dalam konteks sebagaimana yang dimaksud Said Agil, melainkan penjelasan bahwa keadilan walau datang dari orang kafir lebih baik dari kezaliman yang dilakukan muslim mana pun”, kata Habib Salim Selon kepada Redaktur fpi.or.id, Selasa (04/09/2012).
Ada pun soal kepemimpinan, Habib Selon mengatakan, bahwa KEKAFIRAN adalah KEZALIMAN besar. “Said Agil harus sadar dan insyaf bahwa kekafiran adalah sebesar-besarnya kezaliman, sehingga kalau pemimpin muslim zalim saja harus ditolak, apalagi pemimpin kafir, karena kekafiran adalah kezaliman paling besar. Sedang argumen Said Agil terkait kesiapan Gubernur Kafir Kalbar membantu MTQ Internasional NU milyaran rupiah, sehingga Kafir boleh pimpin Muslim, merupakan bukti tak terpungkiri bahwa Said Agil ikut Thoriqoh Liberal dengan Madzhab Fulus. Bagi Thoriqoh Liberal, jangankan Kafir jadi pemimpin, monyet aje boleh, asal disetujui suara mayoritas!”, lanjut Habib.
Sebelum menutup pembicaraanya, Habib Selon menjelaskan Soal Fulus, ada istilah dalam masyarakat Arab Betawi yang berbunyi, “Fii Fuluus mulus bagus, Maa Fii Fuluus kurus mamfus”. Jadi, Said Agil bukan beda pendapat, tapi beda pendapatan!”, cetus Habib sambil berlalu.

Said Agil vs Salim Selon (jilid-4)


Jakarta – KabarNet: Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-7 merupakan kegiatan yang mulia, guna memelihara dan menjaga keaslian dan kelestarian Al-Qur’an sampai hari akhir. Begitu juga Al-Qur’an menjadi sebagai pedoman dalam kehidupan yang wajib ditaati oleh setiap Muslim.
Pembukaan Musabaqah ini diselenggarakan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak, pada hari Selasa, 3 Juli 2012 lalu. dalam Pembukaan MTQ Internasional NU (Jami’atul Qurro wal Huffazh), dihadiri beberapa tokoh dan Pejabat Negara termasuk Wapres RI Boediono. Ikut serta mendampingi Wapres adalah Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H. Said Agil Siraj dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Nahdlatul Ulama K.H. A. Muhaimmin Zen.
Namun, dalam acara yang disiarkan langsung oleh TV Ruai (TV Lokal Kalbar) ini, lagi-lagi ternodai oleh ulah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu sendiri. Said Agil Siraj dalam sambutannya mengatakan, ada NU CABANG KATHOLIK dan menyebut nama Gubernur Kalbar yang Katholik dengan nama USTADZ CORNELIS, lalu diakhiri dengan do’a semoga jabatan GUBERNUR KATHOLIK tersebut diperpanjang.
Pernyataan Said Agil Siraj ini tentu saja sangat merendahkan martabat Nahdlatul Ulama (NU). Terkait hal ini, Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Salim Alattas atau yang akrab disapa Habib Selon angkat bicara, ia menuding Said Agil telah menghina dan merendahkan NU yang notabene adalah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
“PENDETA Said Agil sudah menghina dan merendahkan serta menyakiti NU yang notabene adalah Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bahkan PENDETA Said Agil sudah menghina dan merendahkan serta menyakiti UMAT ISLAM, khususnya umat Islam Kalbar yang sudah dengan tegas menolak kepemimpinan SI KATHOLIK CORNELIS yang sangat rasis dan fasis serta selalu memusuhi Islam. Aneh bin Ajaib ada PENDETA jadi Ketua Umum PBNU??? Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji’uun…!!!”, demikian ujar Habib Salim Selon melalui pesan singkatnya yang diterima redaksi fpi.or.id, (07/07/2012).
Tidak hanya itu, Said Agil dalam sambutannya saat berbicara tentang kegiatan sosial mengatakan, bahwa membangun jembatan sama wajibnya dengan Shalat. “Karena itu membangun jembatan sama wajibnya dengan shalat, membangun irigasi dan rumah sakit sama dengan membangun masjid. Demikian pula dengan keberagaman. Bukan Indonesia kalau tanpa Islam. Bukan Indonesia juga kalau tanpa Katolik, tanpa Buddha, tanpa Hindu. Semua itu harus kita pertahankan sampai hari kemudian. Inilah pandangan NU dulu, sekarang dan seterusnya,” kata Said Agil, seperti dikutip situs resmi Wakil Presiden Republik Indonesia. (03/07/2012).

Said Agil vs Salim Selon, Ronde 3

 
Jakarta – KabarNet: Ketua Umum PBNU H. Said Aqil Siroj dalam tulisanya di harian Republika, hari Kamis 28 Juni 2012 lalu, pada kolom opini berjudul “Menyikapi Kontroversi”, mendapat tanggapan dari Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Salim Alattas atau yang akrab disapa Habib Selon.
Kali ini, Said Aqil Siraj membandingkan Irsyad Manji dengan para Ulama terdahulu seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi dan Abu Yazid al-Bustami. Said Agil dalam pandangannya seperti dimuat harian Republika, yaitu sbb:
  1. Said Agil MEMBANDINGKAN dan MENYAMAKAN posisi IRSHAD MANDJI dengan Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi dan Abu Yazid Al-Busthomi, serta ulama lainnya yang dulu ditolak banyak orang.
  2. Said Agil menganggap LIBERAL hanya sebatas perbedaan yang harus disikapi dengan toleransi dan tenggang rasa.
  3. Said Agil menempatkan diri NETRAL di tengah antara Kelompok Liberal dan Kelompok Fundamentalis.
Maka Salim Selon Alattas menanggapi :
  1. Bhw IRSHAD MANDJI itu AKTIVIS LESBI, sedangkan Ibnu Rusyd, Ibny Arabi dan Abu Yazid Al-Busthomi adalah ULAMA. Jadi, Said Agil telah membandingkan JERUK BUSUK dengan APEL-APEL SEGAR.
  2. Bahwa LIBERAL itu KESESATAN ATAS NAMA AGAMA, jadi merupakan PENODAAN yang harus dilawan, bukan perbedaan yang mesti ditolerir.
  3. Bahwa jika HAQ dan BATHIL bertempur, maka umat Islam wajib berpihak kepada yang HAQ, tidak boleh NETRAL, apalagi membela yang BATHIL.

Said Agil vs Salim Selon ‘Ronde 2’


 
Jakarta – KabarNet: Penerapan Perda Syariat dan larangan bagi wanita mengumbar aurat di tempat umum yang sedianya akan dilakukan oleh Pemkot Tasik Malaya, dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Said Agil Siradj sebagai PERDA SYARIAT BERMASALAH.
Pernyataan tersebut dinilai sama saja dengan menyerang syariat Islam. Said Agil Siradj mengatakan, perda syariat yang akan diterapkan di Tasikmalaya memunculkan masalah. “Itu bermasalah, setiap undang-undang yang pro rakyat dan pro bangsa sudah Islami,” ungkap Said Agil di kantor PBNU, Rabu (6/6).
Dalam hal ini, pernyataan Said Agil mendapat tanggapan dari Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Salim Alattas atau yang akrab disapa Habib Selon. “Tak pantas Said Agil bilang perda syariat bermasalah. Said Agil justru yang BERMASALAH. Dia itu VIRUS BERBAHAYA bagi NU yang AHLUSSUNAH,” kata Habib Salim Selon.
“Buktinya, AHMADIYAH dibela, Lady GaGa didukung, dia sudah mengaku TIDAK BELA ISLAM dan kini menyerang syariat Islam!!!”, sambungnya.
Bahkan Said Agil menilai PERDA SYARIAT sebagai tindakan yang tidak dewasa. “Itu artinya belum dewasa tentang character building. Kita belum selesai membangun karakter, masih ada aku dan kamu, harusnya sekarang itu kami, kita,” kata Said Agil di PBNU, Jalan Keramat Raya, jakarta Pusat, Rabu (6/6).
Said Agil mengatakan, tidak perlu ada Perda Syariat karena undang-undang yang isinya membela kepentingan rakyat sudah Islami. Pernyataan Said Agil itu menanggapi rencana Pemerintah Kota Tasikmalaya berencana menerapkan Perda Syariah, Perda tersebut berisi tentang tata nilai kehidupan masyarakat yang berlandaskan ajaran agama Islam. Selain itu, Pemkot Tasikmalaya juga akan membentuk satuan Polisi Syariah yang bertindak menegakan Peraturan Daerah (Perda) nomor 12 tahun 2009.
Menurut Habib Selon, Said Agil Siradj selama ini tidak pernah MEMBELA ISLAM. Dia justru membela kelompok LIBERAL dan AMERIKA SERIKAT. “Said Agil memang LIBERAL. Said Agil dikenal sebagai pembela artis maksiat Lady GaGa,” tegasnya.
Habib Selon meminta KH Said Agil untuk berguru dan mengaji kepada KH Hasyim Muzadi. “Said Agil harus mengikuti jejak KH Hasyim Muzadi. Mantan Ketum PB NU ini orang alim, sholeh, dan berakhlaq. Berbeda dengan Said Agil yang membela Lady GaGa. Said Agil harus mengaji kepada KH Hasyim Muzadi,” katanya lagi.

SAID AGIL vs SALIM SELON

 
Ketua Umum PBNU H. Said Aqil Siroj dalam sambutannya di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1 Juni 2012), mengatakan, hari ini tidak ada lagi prasangka (suuzon) diantara ormas Islam. Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dideklarasikan bukan untuk kepentingan politik ataupun kekuasaan, tapi persaudaraan dengan semua umat Islam. Biar beda tapi sama. Namun kenyataannya, apa yang diucapkan oleh Said Agil tidak sesuai dalam ceramahnya saat memberikan sambutan. Said Agil justru tidak mencerminkan persaudaraan dengan menyindir Front Pembela Islam (FPI), bahwa seharusnya yang dibela itu adalah tanah air, bukan Islam. “Ketika itu Soekarno, Muhammad Hatta, Jenderal Soedirman bertanya kepada KH. Hasyim di Tebu Ireng, apa hukumnya membela tanah air. Jadi bukan membela Islam, seperti FPI. Tapi membela Tanah Air.” Kata Said Agil, Jumat (1/06/2012), di gedung PBNU Jakarta.
Dalam hal ini, Habib Salim Al-Attas yang akrab disapa Habib Selon merasa tergelitik untuk menangggapi ucapan Said Aqil yang mendiskreditkan FPI. Habib Selon, memberikan jawaban atas ungkapan sinis Said Aqil, melalui pesan singkatnya kepada redaktur fpi.or.id, Sabtu (2/06/2012). Berikut isi pesannya:
Said Aqil Siroj berkata : “Kita Bela Tanah Air, Bukan Bela Islam seperti FPI !” Maka, Ketua FPI DKI Jakarta Hb. Salim Selon Al-Attas menjawab: “Alhamdulillah, siapa BELA ISLAM pasti BELA TANAH AIR, namun siapa BELA TANAH AIR belum tentu BELA ISLAM. Itulah sebabnya, FPI bela Islam dari segala PENODAAN yang dilakukan LIBERAL, sekaligus bela rakyat dan bangsa INDONESIA yang mau dirusak LIBERAL.
FPI perang melawan KEMUNKARAN, tapi FPI juga turun melakukan AKTIVITAS KEMANUSIAAN di Jakarta saat Huru-Hara 1998, di Jawa Tengah dan Jawa Timur saat Tragedi Ninja, Aceh saat Tsunami, Sumbar dan Jabar saat Gempa, Morowali dan Bojonegoro saat Banjir, Situ Gintung saat Jebol, Leuwi Gajah saat Longsor, Yogya saat Merapi meletus, Ambon dan Poso saat konflik, Mesuji saat Petani dizalimi, Saudi saat TKW disiksa, bahkan orang non muslim pun yang dizalimi banyak yang dibela FPI, dan sebagainya. Sedang Said Aqil Siroj sendiri sudah mengaku terus terang TIDAK BELA ISLAM, pantas dia bela Liberal, Ahmadiyah, Ghulat dan Rafidhoh, hingga Irshad Manji dan Lady GaGa!!
Sedangkan pengakuan Said Aqil BELA TANAH AIR: Apa yang sudah dilakukannya??? NOL BESAR !.
(Habib Selon, Pembela Islam)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons