GOOGLE SEARCH

Showing posts with label TOKOH ULAMA. Show all posts
Showing posts with label TOKOH ULAMA. Show all posts

Saturday, 4 February 2017

Biografi Habib Rizieq Syihab




Latar Belakang Keluarga Habib Rizieq
Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein Shihab dilahirkan di Jakarta 24 Agustus 1965. Ayah dari profil dan biodata Habib Rizieq Shihab ini adalah Sayyid Husein Syihab (alm). Sedangkan Ibu Habieb Rizieq bernama Syarifah Sidah Al-Attas. Beliau ( Habieb Rizieq Shihab), tinggal di rumah yang beralamat di Jl. Petamburan III No. 83, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di ujung gang di daerah rumahnya tersebut, terdapat sebuah toko atau warung usaha milik Habieb Rizieq. Warung tersebut adalah sebuah toko minyak wangi dan perlengkapan untuk sholat.
Riwayat Pendidikan Hebib Rizieq Shihab
Untuk riwayat pendidikan dari profil dan biodata Habib Rizieq Shihab, termasuk cukup panjang. Ia mulai sekolah di SDN 1 Petamburan, SMP 40 Pejompongan. Kemudian dilanjutkan di SMP yang kala itu beliau menyelesaikan SMP nya di SMP Kristen Bethel Petamburan Jakarta. Setelah itu, pendidikannya dilanjutkan di SMAN 4 Gambir, dan SMA Islamic Village (Tangerang) sampai pada tahun 1982. Tahun berikutnya, pada tahun 1983, beliau kuliah di LIPIA yang setahun kemudian beliau mendapatkan beasiswa dari OKI untuk melanjutkan studi S1 di King Saud University, jurusan Dirasah Islamiyah, Fakultas Tarbiyah.
Tahun 1990, profil dan biodata Habib Rizieq berhasil menamatkan studinya dan bahkan sempat mengajar selama satu tahun di SLA di Riyadh dan kembali ke Indonesia pada tahun 1992. Beliau dalam riwayat pendidikannya juga pernah kuliah dan melanjutkan studi program Master di Universitas Anta Bangsa Malaysia. Namun hanya bertahan satu tahun, kemudian beliau kembali ke Indonesia untuk kembali melanjutkan perjuangan dakwahnya.
Karier Habib Rizieq Syihab
Karier Habib Rizieq Shihab tentu saja tak jauh dari aktivitas berdakwah. Banyak sekali kegiatan dakwah yang ia jalankan untuk mengabdikan diri pada agama Islam dan ummat. Dalam dunia pendidikan juga demikian, beliau adalah seorang yang aktif untuk membangun dunia pendidikan Islam. Beliau pernah juga menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Jami’at Khair sampai tahun 1996. Perjalanan aktifitas beluau di dunia organisasi adalah bermula ketika beliau aktif sebagai anggota dari Jami’at Khair, ormas berbasis keturunan Arab dan Habib.
Profil dan biodata Habib Rizieq juga pernah menjabat sebagai Dewan Syari’at BPRS At-Taqwa, Tangerang. Kini aktifitas beliau dalam dunia organisasi adalah sebagai Imam Besar FPI atau Front Pembela Islam. Sejak berdirinya FPI (tahun 1998) sampai 2002 menjabat sebagai Ketua Umum FPI. Nampaknya beliau tidak bisa dipisahkan dari perjuangan melalui kendaraan ormas FPI yang ia pimpin. Bahkan dalam menjalankan agenda dalam rangka menegakkan Islam, beliau sering menemui jalan yang sangat keras. Sudah sering beliau dilaporkan pihak yang berlawanan dengannya ke polisi.

Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) Kyai Kanjeng



Cak Nun atau nama lengkapnya Emha Ainun Nadjib ini memiliki peran besar di dalam peristiwa tersebut. Saat ini, beliau lebih sering mengisi acara secara offline meski masih sangat padat. Selain banyak mengisi acara offline di daerah-daerah, beliau juga sering mengisi acara di luar negeri. Mungkin masih ada banyak yang belum memahami siapa sebenarnya profil dan biodata Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib ini. Maka dari itu, di bawah ini akan kami sampaikan sekilas mengenai profil dan biodata Cak Nun.
Emha Ainun Nadjib adalah seorang budayawan dan seniman. Meski beliau sering berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai Islam, Cak Nun tidak bersedia dipanggil ustadz, apalagi Kyai. Beliau lebih suka disapa dengan sebuatn Cak atau Mbah saja. Selain seorang budayawan, Cak Nun adalah seorang intelektual muslim dari Jombang Jawa Timur. Beliau sering dan selalu menyebarkan Islam dengan nilai-nilaia perdamaian. Di luar negeri pun, Cak Nun selalu membawa Islam dengan mencorakkan bahwa Islam itu damai.
Perjalanan Cak Nun dalam khazanah budaya keislaman ini cukup panjang. Pendidikan Islam Cak Nun juga bisa dikatakan sangat panjang dan beragam. Selain menekuni dunia seni, terutama seni musik, Cak Nun juga adalah seorang penulis yang aktif dan juga senang teater. Tulisan-tulisan beliau lebih banyak berupa kritik sosial terhadap berbagai masalah sosial dan kehidupan yang sedang terjadi. Cak Nun juga sangat aktif dalam menulis puisi, banyak sekali karya puisi yang sudah beliau tulis.
Dalam berbagai kesempatan pentas, beliau selalu ditemani oleh grup musik Kyai Kanjeng. Gaya berdakawah Cak Nun lebih seperti diskusi bareng dalam membedah berbagai masalah yang sedang dihadapi umumnya orang banyak. Cak Nun menjadi narasumber dari pengajian aktif yang disebut dengan komunitas Padang Mbulan di berbagai daerah pelosok dan desa-desa. Musik Kyai Kanjeng yang selalu menemani Cak Nun juga merupakan perpaduan dari berbagai jenis aliran musik, kadan bermain secara tradisional, kadang musik pop, kadang juga bermusik dengan gaya Islami.
Biodata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
  • Nama Lengkap : Emha Ainun Nadjib
  • Alias : Cak Nun/Mbah Nun
  • Profesi : Budayawan
  • Agama : Islam
  • Tempat Lahir : Jombang, Jawa Timur
  • Tanggal Lahir : Rabu, 27 Mei 1953
  • Zodiac : Gemini
  • Warga Negara : Indonesia
  • Istri : Novia S. Kolopaking
  • Anak : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha

Pendidikan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
  • SD, Jombang (1965)
  • SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
  • SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
  • Pondok Pesantren Modern Gontor
  • Fakultas Ekonomi UGM (tidak tamat)

Karir Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)
  • Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
  • Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
  • Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
  • Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
  • Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media

Biografi Habib Luthfi Bin Yahya



Habib Luthfi adalah salah satu Habaib yang sangat dihormati di Indonesia, keilmuan beliau dalam berbagai bidang agama begitu dijunjung tinggi oleh para jamaah. Habib Luthfi sendiri dilahirkan di Pekalongan tepatnya pada tanggal 10 Nivember 1947 atau tepat pada tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Habib Luthfi ini dilahirkan dari seorang Syarifah yang bernama sayidah al Karimah as Syarifah Nur. Habib Luthfi Bin Yahya ini selain sebagai seorang Ulama, beliau juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu anggota Syuriyah PBNU.
Selain aktif sebagai salah satu anggota Syuriyah PBNU, beliau juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia di Jawa Tengah. Selain itu, beliau juga adalah Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah. Riwayat pendidikan Habib Luthfi, terutama mengenai pendidikan agama, tentu saja beliau mendapatkan ilmu agama Islam dari ayahanda tercintanya yaitu al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Setelah mendapatkan pelajaran agama dari Ayahanda, Habib Luthfi bin Yahya kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Salafiah selama tiga tahun.
Pendidikan sekolah Habib Luthfi kemudian dilanjutkan ke Pondok Pesantren Benda Kerep Cirebon pada tahun 1959 M. Tidak berhenti di situ saja, Habib Luthfi kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Indramayu, Purwokerto dan kemudian ke Tegal. Setelah cukup lama mengenyam pendidikan agama di daerah Jawa dan Indonesia, Habib Luthfi Bin Yahya kemudian melanjutkan pencarian ilmu agamanya ke Mekah kemudian ke Madinah, dan dilanjutkan ke beberapa negara timur tengah lainnya. Di sana beliau mendapatkan ilmu dan berguru kepada ulama-ulama besar. Beliau juga berguru kepada wali-wali Allah dan mendapatkan beragam ilmu Agama Islam seperti ilmu syari’ah, tasawuf, dan thariqah dan tasawuf.
Dari berbagai ulama besar tersebut kemudian Habib Luthfi mendapatkan Ijazah baik Ijazah Khos maupun Ijazah 'Am dalam bidang dakwah nasyru syari’ah atau menyebarkan syari’ah. Selain itu juga kitab-kitab tauhid, kitab-kitab hadits, kitab-kitab shalawat, tashawuf, sanad, thariqah, kitab thariqah, riwayat, bacaan-bacaan aurad, tafsir, dirayat, nahwu, tashwuf, nasab, hizib-hizib, sanad-sanadnya, dan kitab-kitab kedokteran. Selain kesemuanya itu, dalam ilmu Thoriqoh beliau juga mendapatkan ijazah untuk membaiat.
Guru-Guru Habib Luthfi Bin Yahya
Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.
Silsilah Thariqah dan Baiat Habib Luthfi Bin Yahya
Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah:
Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al
‘Aliah Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim alAlamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid
Sanad Thariqah Naqsyabandiayah al Khalidiyah
Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman alQuraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi alHasni.
Sanad Thariqah Syadziliyah
Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.
Sanad Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas. Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.
Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid AlQutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al‘Athas Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.
Sanad Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah
Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.
Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin.

Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya:
Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasani al Husaini Mekah.
Sanad Thariqah Tijaniah
Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin
Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id
menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.
Kegiatan Dan Aktifitas Habib Luthfi Bin Yahya
  • Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami’ul Usul thariq al Aulia).
  • Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.
  • Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu)
  • Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu.
  • Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).
  • Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.
  • Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya.

Jabatan Organisasi Habib Luthfi Bin Yahya
Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah.

Ketua Umum MUI Jawa Tengah dll.

Biografi Gus Mus

Biodata dan 
Bukan saja dari golongan umat Islam yang menghormati sosok Gus Mus, namun dari berbagai tokoh agama lain juga sangat menaruh hormat dengan beliau. Di dala organisasi Nahdlatul Ulama sendiri, sosok profil Gus Mus begitu ditakzimi. Bahkan pada pemilihan Ketua Tanfidziah dan Syuriah beberapa waktu yang lalu, beliau lah yang menjadi penengah dan berhasil menenangkan perpecahan yang saat itu begitu memanas. Dalam menenangkan hadirin yang hadir pada saat itu Gus Mus sampai menangis. Bahkan Gus Mus yang waktu itu dicalonkan menjadi Ketua Syuriah, tidak bersedia dan lebih memilih menyerahkannya kepada yang lain.
Pidato Gus Mus pada saat itu benar-benar mengharukan dan membuat para hadirin sidang menjadi lebih tenang. Bahkan dalam isi pidatonya, beliau bersedia untuk mencium kaki para muktamirin jika itu bisa menenangkan suasana. Memang dalam kesehariannya, profil biodata Gus Mus ini tidak saja dikenal sebagai seorang Kyai, namun beliau juga dikenal sebagai seorang seniman. Banyak sekali karya seni beliau yang sudah diterbitkan, apresiasi dari berbagai kalangan dengan karya seni Gus Mus ini sudah tidak diragukan lagi.
Dalam menjalankan hobi seninya, biodata Gus Mus banyak menerbitkan cerpen, puisi dan juga melukis. Bukan saja aktif mengeluarkan lukisan, syair dan cerpen, dalam karya tulis yang bersifat ilmiah profil dan biodata Gus Mus juga bisa dikatakan sebagai serang yang produktif. Sebagai seorang ulama, keilmuan beliau memang sudah tidak ada yang menyangsikan lagi. Pendidikan keislaman yang Gus Mus tempuh pun tidak hanya di Indonesia saja, beliau juga pernah mondok dan nyantri di negara Timur Tengah. Saat ini, Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin.
Ketika mondok di Timur Tengah, profil dan biodata Gus Mus adalah merupakan teman akrab dari Gus Dur Presidan RI ke 4. Buhkan lebih dari teman, Gus Mus adalah sahabat karib dari Gus Dur. Pemikiran Gus Mus dalam keagamaan pun juga tak beda jauh dengan Gus Dur, beliau berdua adalah Ulam-ulama yang selalu mengutamakan kemanusiaan dan kerukunan umat beragama dari pada yang lainnya. Tak heran jika beliau berdua merupakan sosok sahabat karib, karena memang beliau berdua memiliki pemikiran keislaman yang hampir sama.
Nah, jika Anda ingin mengetahui dengan detail mengenai profil dan biodata Gus Mus, atau KH. Mustofa Bisri, di bawah ini sudah kami ringkaskan mengenai profil dan biodata serta biografi lengkap Gus Mus beserta karya-karya tulis beliau.
Biodata Lengkap Gus Mus (KH. Mustofa Bisri)
Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : KH. Bisri Mustofa
Ibu : Marafah Cholil
Pendidikan Gus Mus :
– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Karya Tulis Gus Mus Dalam Bentuk Buku
– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
Kumpulan Puisi Gus Mus Yang Sudah Diterbitkan
Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Cet. I Stensilan 1988; Cet. II P3M Jakarta 1990; Cet. III 1991, Pustaka Firdaus, Jakarta);
Tadarus (Cet. Pertama 1993 Prima Pustaka, Jogjakarta);
Pahlawan dan Tikus (Cet. I 1995, Pustaka Firdaus, Jakarta);
Rubaiyat Angin & Rumput (Diterbitkan atas kerja sama Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, Jakart, Tanpa Tahun);
Wekwekwek (Cet. I 1996 Risalah Gusti, Surabaya);
Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta, Tanpa tahun);
Negeri Daging (Cet. I. September 2002, Bentang, Jogjakarta);
Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Cet.I Yayasan Al-Ibriz 2000, cet. II, 2007 MataAir Publishing, Surabaya)
• Aku Manusia (MataAir Publishing, 2007, Surabaya)
• Syi’iran Asmaul Husnaa (Cet. II MataAir Publishing, 2007,Surabaya)
• Membuka Pintu Langit (Penerbit Buku Kompas, Jakarta November 2007)
Kegiatan Gus Mus Dalam Bentuk Pameran
• Pameran tunggal 99 Lukisan Amplop Desember 1997 di Gedung Pameran Senirupa Depdikbud Jakarta
• Pameran bersama Amang Rahman (Alm) dan D. Zawawi Imron Juli 2000 di Surabaya
• Pameran Lukisan dan Pembacaan Puisi bersama Danarto, Amang Rahman (Alm), D. Zawawi Imron, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor.. November 2000 di Jakarta
• Pameran Kaos Kaligrafi, Mei 2001 di Surabaya
• Pameran Kaos Kaligrafi, Agustus 2001 di Jakarta
• Pameran Lukisan bersama kawan-kawan pelukis antara lain Joko Pekik, Danarto, Acep Zamzam Noor, D. Zawawi Imron, dll, Maret 2003
• Pameran bersama dalam rangka Jambore Seni, Juli 2006
• Pameran Kaligrafi Bersama, Jogya Galery, 2007
Organisasi Gus Mus

Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004

Biografi KH. Maimun Zubair

Profil dan biodata Mbah Mun sendiri mulai banyak dicari dan banyak orang yang berusaha mengorek informasi terkait biodata KH. Maimun Zubair. Biodata dan profil Mbah Mun sendiri sebenarnya adalah termasuk seorang Kyai yang sangat dihormati dan dituakan. Sepak terjang beliau di Indonesia termasuk salah satu ulama rujukan dalam bidang fiqih. Hal ini tentu saja karena profil dan biodata Mbah Maimun Zubair adalah ulama yang menguasai cabang ilmu fiqih dan ushul fiqih yang sangat mendalam. Profil KH. Maimun Zubair ini bukan saja dihormati di kalangan pesantren, namun di kalangan pemerintahan dan birokrat sosok profil KH. Maimun Zubair juga sangat disegani.
Sosok profil dan biodata KH. Maimun Zubair selain seorang yang faqih, artinya ahli fiqih, beliau juga termasuk Muharrik atau penggerak. Profil KH. Maimun Zubair adalah teman akrab dari KH. Sahal Mahfudh Kajen, beliau berdua adalah teman karib yang sama-sama merupakan seorang santri kelana yang menuntut ilmu di berbagai pesantren. Bukan saja pesantren di tanah Jawa, bahkan beliau berdua juga menuntut ilmu agama Islam, ilmu-ilmu syariat di tenah Hijaz atau Timur Tengah. Mungkin kita sudah sering sekali mengengar dawuh-dawuh dan tausiah dari profil KH. Maimun Zubair, namun untuk biodata dan biografi lengkapnya belum begitu memahami. Nah, di bwah ini adalah ringkasan mengenai profil dan biodata KH. Maimun Zubair untuk Anda.
Biodata KH. Maimun Zubair
KH. Maimun Zubair adalah seorang ulama yang dilahirkan di daerah Sarang, Rembang Jawa Tengah. Beliau dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam kesehariannya, profil KH. Maimun Zubair mengasuh di Pondok Pesantren Al Anwar yang juga lokasinya berada di Sarang, Rembang Jawa Tengah. Kealiman dan perhatian beliau terhadap berbagai ilmu Islam memang diturunkan dari Ayah beliau yang juga merupakan seorang Ulama. Ayah dari profil dan biodata KH. Maimun Zubair adalah almarhum Almaghfur lah Kiai Zubair. Kyai Zubair atau ayahanda KH. Maimun Zubair ini adalah seorang alim ulama yang merupakan murid dari Ulama besar Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.
Riwayat Pendidikan KH. Maimun Zubair
Kedalaman ilmu agama dari orang tua KH. Maimun Zubair itulah merupakan sebuah dasar pendidikan agama yang membentuk KH. Maimun Zubair seperti sekrang ini. Setelah mengaji dan mendalami ilmu agama dari Ayahnya, kemudian KH. Maimun Zubair meneruskan mondoknya di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuki Dahlan. Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Makkah Mukarromah pada usia 21 tahun. Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, profil biodata KH. Maimun Zubair ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.
Di Mekkah, KH. Maimun Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya. Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, namun profil KH. Maimun Zubair tetap menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.
Dalam catatan sejarah hidupnya, KH. Maimun Zubair tidak hanya mengabdikan diri pada agama saja. Namun beliau juga adalah seorang yang sangat aktif di berbagai bidang sebagai pengabdian beliau kepada negara. KH. Maimun Zubair pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun, selain itu beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah. Kini, beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Itulah teman-teman, sedikit informasi terkait profil dan biodata KH. Maimun Zubair yang bisa admin sampiakan kepada Anda semua. Tak bosan-bosan kami mohon koreksi jika ada informasi terkait biodata KH. Maimun Zubair yang kurang tepat atau ada kesalahan. Sampaikan koreksi Anda melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan, untuk selanjutnya insyaalloh akan kami lakukan pembenaran secepatnya. Akhirnya, semoga info di atas bisa berguna dan bisa menambah pengetahuan kita tentang KH. Maimun Zubair.

Biografi KH. Hasyim Asy'ari

 
Pendidikan KH. Hasyim Asy'ari
Sejak kecil, KH. Hasyim Asy'ari sudah mendapatkan pendidikan Islam yang kuat dari orang tuanya. KH. Hasyim Asy'ari dilahirkan dari pasangan ayah yang bernama Kyai Asy'sari yang merupakan pimpinan dari pesantren di Keras Jombang. Sedangkan Ibunya adalah Halimah yang membawa trah keturunan Joko Tongkir kepada Hasyim Asy'ari. Hasyim Asy'ari sendiri merupakan keturunan Joko Tingkir (Sultan Pajang) ke delapan.
Pendidikan Hasyim Asy'ari bisa dikatakan sejak kecil sudah belajar agama Islam kepada ayahnya sendiri. Dalam pendidikan agama Islam yang ia dapat, terutama terkait dasar-dasar agama, KH. Hasyim Asy'ari tidak saja mendapatkan ilmu dari ayahnya, namun juga mendapatkannya dari kakeknya yaitu Kyai Utsman.Baru kemudian menginjak usia 15 tahun Hasyim Asy'ari meninggalkan kedua orang tuanya untuk nyantri di pondok Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian petualangan beliau dilanjutkan ke Pondok Pesantren Trenggilis, Semarang. Setelah itu kemudian dilanjutkan ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah bimbingan Syaikh Kholil Bangkalan.
Petualangan pencarian ilmu agama Hasyim Asy'ari tidak berhenti sampai di situ saja. Perjalanan nyantri Hasyim Asy'ari di tanah Jawa sangat panjang, seperti di  Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang dan di Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Di bawah asuhan Kyai Ya'qub di Sidoarjo inilah nampaknya Hasyim Asy'arie muda menemukan kecocokan dalam menempuh pendidikan Agama Islam. Dan ternyata bukan saja Hasyim Asy'arie yang merasa nyaman belajar agama di Sidoarjo, namun ternyata gurunya yaitu Kyai Ya'qub juga sangat tertarik dengan sosok muda yang cerdas ini.
Pada saat nyantri di Sidoarjo ini ternyata KH. Hasyim Asy'arie tidak saja mendapatkan ilmu agama, namun beliau juga memperoleh istri. Hal ini karena pada usia 21 tahun KH. Hasyim Asy'arie dinikahkan dengan salah seorang putri Kyainya yang bernama Chadijah. Setelah menikah, lalau KH. Hasyim Asy'arie kemudian pergi ke Mekkah bersama istri untuk menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan kemudian beliau kembali ke tanah air setelah istri dan anaknya meninggal dunia.
Tak lama di tanah air, Hasyim Asy'arie kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Di Mekkah beliau banyak berguru ke ulama-ulama besar baik dari Mekkah sendiri maupun ulama Indonesia yang menetap di Mekkah. Beberapa guru KH. Hasyim Asy'ari diantaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.


KH. Hasyim Asy'arie Mulai Mengajar Di Pesantren
Sepulang dari Mekkah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian mulai mengajar di pesantren. Beliau mengajar di pesantren kakeknya yaitu Kyai Usman. Kemudian pada tahun 1899 Kyai Hasyim kemudian membeli sebidang tanag di Dukuh Tebuireng. Di sebidang tanah tersebut kemudian Kyai Hasyim mendirikan sebuah bangunan berupa bambu atau dalam bahasa Jawa tratak namanya. Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal, di tratak bagian depan, digunakan KH. Hasyim Asy'ari untuk mengajar dan untuk sholat berjamaah. Sedangkan tratak bagian belakang digunakan sebagai tempat tinggal beliau. Pada awalnya, santri beliau hanya berjumlah 8 orang, selang tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang.
Setelah mengembangkan pesantren dan mengajarkan agama Islam di Tebuireng selama dua tahun, kembali KH. Hasyim Asy'arie kehilangan istri tercintanya Nyai Khodijah. Sepeninggalh Chodijah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh yang merupakan putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan dengan Nyai Nafiqoh ini, Kyai Hasyim dikaruniai beberapa anak yaitu 1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.
Kyai Hasyim Asy'ari merupakan Kyai yang sangat cemerlang dalam keilmuan Islam. Kailmuan beliau yang paling terkenal adalah kemampuannya dalam bidang ilmu hadith. Bahkan setiap bulan Ramadlan beliau selalu menghatamkan kajian Hadith Bukhari Muslim. Dan, yang luar biasa adalah, bahwa murid beliau bukan saja dari kalangan orang biasa. Bahkan guru beliau sendiri yaitu Syaikh Kholil Bangkalan juga berguru kepada beliau. Syaikh Kholil Bangkalan mengakui keilmuan KH. Hasim Asy'arie dan kemudian beliau memutuskan untuk mengaji kepada muridnya tersebut. Padahal KH. Hasyim Asy'arie sendiri tidak bersedia menjadi guru dari Syaih Kholil, karena beliau merasa murid dan akan selamanya menjadi murid dari Syaikh Kholil Bangkalan.
Hubungan KH. Hasyim Asy'ari Dengan KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah
Selama ini, NU dan Muhammadiyah seperti kita ketahui bersama selalu berbeda pandangan terkait berbagai masalah dalam Islam. Pimpinan-pimpinan kedua organisasi Islam tersebut terlihat cenderung saling berlawanan dalam segi pemikiran. Namun sebenarnya pada dasarnya kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini karena para pendiri dari masing-masing organisasi tersebut adalah satu Guru. Ya, KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan adalah sama-sama murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau.
Perlu dipahami bahwa ketika beliau berdua nyantri di Mekkah terjadi pembaharuan yang luar biasa dari Muhammad Abduh dengan pemikirannya. Tentu pemikran baru ini juga menarik bagi para pelajar dari Indonesia termasuk juga KH. Hasyim Asy'ari dan juga KH. Ahmad Dahlan. Sebenarnya guru beliau juga tidak sama sekali menolak cara pandang dari Muhammad Abduh, namun juga tidak menerima nya secara keseluruhan. Nah, dari sini kemudian ada beberapa santri dari Indonesia yang membawa ideologi dari Muhammad Abduh ke Indonesia dengan pembaharuannya yang salah satunya adalah KH. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah.
KH. Hasyim Asy'ari sendiri sebenarnya ada yang menyebutkan setuju dengan beberapa pandangan pembaharuan dari Muhammad Abduh. Namun beliau tidak setuju jika harus meninggalkan madzhab dalam beragama Islam. Karena beliau berpandangan bahwa tidak mungkin akan bisa memahami Hadith dan Al-Qur'an tanpa mempelajari pandangan dari ulama-ulama besar terdahulu yang tergabung dalam Ulama Madzhab. Karena melakukan penafsiran terhada baik Hadith ataupun Al-Qur'an tanpa mempelajari pandangan ulama terdahulu, hanya akan membawa kita kepada pemutar balikkan fakta, begitu pandangannya.

Biodata KH. Hasyim Asy’arie
  • Lahir : 10 April 1875
  • Kota : Kabupaten Demak, Jawa Tengah
  • Meninggal : 7 September 1947
  • Kota : Jombang, Jawa Timur
  • Dikenal karena : Pendiri Nahdlatul Ulama
  • dan Pahlawan Nasional
  • Gelar : Hadratusy Syaikh
  • Pengganti : K.H. A. Wahab Hasbullah
  • Agama : Islam
  • Pasangan : Nyai Chodijah, Nyai Nafiqoh, Nyai Masruroh
  • Anak   : Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf

Biografi Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag


Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag adalah seorang Ulama yang berasal dari organisasi Muhammadiyah. Sepak terjang beliau dalam berbagai kegiatan keagamaan Islam sudah tidak diragukan lagi. Banyak sekali dalam kegiatan Islam, bukan saja dalam dunia dakwah, namun beliau juga aktif dalam dunia pendidikan Islam. Hal ini dibuktikan dengan aktifnya beliau menjadi Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag adalah sosok tokoh Islam yang dilahirkan di daerah Bukittinggi, Sumatera Barat, 22 September 1956. Beliau terlahir dari pasangan Ilyas dan Syamsidar. Kedua orang tua beliau sudah meninggal dunia. Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag menikah dengan istrinya yang bernama Liswarini Syahrial pada tanggal 24 September 1987 dan sudah dikarunia 4 orang anak.
Beliau dalam ber Islam banyak pandangan-pandangan yang membahas mengenai berbagai aliran Islam yang ada di Nusantara. Termasuk belakangan ini yang semakin banyak bermunculannya golongan Wahabi garis keras yang begitu gencar menyerang golongan yang lainnya. Selain terkait Wahabi ini, pandangan beliau juga concern terhadap keberadaan Ahlus Sunnah Waljamaah. Hal ini wajar karena perselisihan yang terjadi belakangan ini adalah karena berebut siapa golongan yang paling berhak menyandang nama Ahlus Sunnah. Nah, untuk Anda yang belum begitu mengenal seperti apa sebenarnya sosok profil dan biodata Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag , di bawah ini adalah ringkasan profil dan biodata Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag beserta perjalanan pendidikan dan karir beliau.
Riwayat Pendidikan Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • Lulus Sekolah Dasar Negeri Taluk I, Bukittinggi (1968)
  • Lulus Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 tahun, Bukittinggi (1972)
  • Lulus Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 tahun, Padang (1974)
  • Sarjana Muda (Bachelor of Arts), Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Padang (1978)
  • Lisence (Lc), Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud, Riyadh, Saudi Arabia (1983)
  • Sarjana (Doktorandus), Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol), Padang (1984) S2 (Magister Agama Islam) Aqidah dan Filsafat, Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1996)
  • S3 (Program Doktor) Ilmu Agama Islam, Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2004)

Skripsi, Tesis dan Desertasi Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • ‘Irâb al-Jumal fî Sûrah as-Sajdah, Skripsi Sarjana Muda Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, Padang (1978)
  • Manzilah al-Istisyhâd bi Al-Qur’an Al-Karîm baina al-Istisyhâdât an-Nahwiyah, Skripsi Sarjana Penuh Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, Padang (1984)
  • Isu-isu Feminisme dalam Tinjauan Tafsir Al-Qur’an, Studi Kritis terhadap Pemikiran Para Mufassir dan Feminis Muslim tentang Perempuan, Tesis Magister Agama Islam, Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1996)
  • Konstruksi Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern (Hamka dan M. Hasbi ash-Shiddiqy), Disertasi Doktor Ilmu Agama Islam, Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2004)

Karya Tulis Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1992)
  • Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar (1997)
  • Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1999)
  • Akhlaq Masyarakat Islam, Yogyakarta: MTDK PP Muhammadiyah (2002)
  • Tafsir Tematis Cakrawala Al-Qur’an, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah (2003)
  • Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir, Jakarta: Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama RI (2005)
  • Kisah Para Rasul, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah (2006)
  • Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an, Studi Pemikiran Para Mufasir, Yogyakarta: Labda Press (2006)
  • Tipologi Manusia dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: Labda Press (2007)

Aktifitas Dakwah Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • Ceramah agama Islam selama bulan Ramadhan (1402 H) untuk mahasiswa di Berlin atas undangan PPME (Persatuan Pelajar Muslim se-Eropa) Wilayah Jerman Barat (1980)
  • Mengikuti Pelatihan Imam dan Da’i Internasional di Universitas Al-Azhar, Kairo (2½ bulan, 1988)
  • Ceramah agama Islam dalam acara LKII VI (Latihan Kajian Islam Intensif) untuk mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 10 negara bagian Amerika Serikat (45 hari, September-Oktober 1999)
  • Pengajian Ramadhan dan Khutbah ‘Iedul Fitri 1420 H untuk masyarakat Islam Indonesia Los Angeles Amerika Serikat (15 hari, Januari 2000)
  • Ceramah agama Islam pada acara Spring Gathering 2000 di Manchester (atas undangan KIBAR-Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya) untuk masyarakat Islam Indonesia Britania Raya (April 2000)
  • Ceramah agama Islam di 7 kota lainnya di Kerajaan Inggris (21 hari, April-Mei 2000)
  • Ceramah agama Islam pada mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 7 kota Jerman atas undangan PPME Wilayah Jerman (15 hari, Mei 2000)
  • Ceramah agama Islam pada Keluarga Muslim Indonesia di Jepang, Ramadhan 1427 H (2005)
  • Ceramah agama Islam pada Muktamar IMSA (Indonesian Moslem Society in America) (Desember 2007)
  • Ceramah agama Islam pada masyarakat muslim Indonesia di Taipei, Taiwan (Mei 2007)
  • Ceramah agama Islam dalam acara LKII-ICMI North America 2008 untuk mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 9 negara bagian Amerika Serikat (32 hari, Mei-Juni 2008)
  • Ceramah agama Islam di masjid-masjid, kampus-kampus dan kantor-kantor di puluhan kota-kota di Indonesia
  • Ceramah agama Islam dan Talk Show di TVRI Yogyakarta dalam acara Gema Ramadhan, Malioboro-Malioboro, Visi Baru dan Resonansi

Karir Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • Guru Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta (1984-1990)
  • Staf Pengajar Tetap Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1987-sekarang)
  • Sekretaris Lembaga Pengakajian dan Pengamalan Islam (LPPI), Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta (1987-1994)
  • Pengasuh Pondok Pesantren Budi Mulia Yayasan Shalahuddin, Yogyakarta (1990-sekarang)
  • Wakil Kepala Lembaga Pengakajian dan Pengamalan Islam (LPPI), Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta (1996-1999)
  • Staf Pengajar Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2000-sekarang)
  • Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta (2003-2007)
  • Staf Pengajar Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah, Surakarta (2006-sekarang)

Organisasi Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag
  • Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang (1977-1979)
  • Ketua Umum DPC IMM Kota Padang (1977-1979)
  • Wakil Ketua DPD IMM Sumatera Barat (1978-1979)
  • Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh, Saudi Arabia (1982-1983)
  • Wakil Ketua Divisi Pembinaan Umat ICMI Orwil Daerah Istimewa Yogyakarta (1991-1995)
  • Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-2000)
  • Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005)
  • Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005-2010)
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat (2005-2010)

Biografi KH. Hasyim Muzadi

 
Selain Gus Dur, nama besar ulama Indonesia yang sepak terjangnya diakui oleh dunia internasional adalah sosok profil KH. Hasyim Muzadi. Sama dengan Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi juga adalah seorang Ketua Umum PBNU yang notabene adalah organisasi Islam terbesar bukan saja di Indonesia, namun juga di dunia. Pemikiran-pemikiran cerdas dari KH. Hasyim Muzadi ini begiu brilian dan sangat relevan dengan perkembangan Islam kekinian. Selalu banyak yang menantikan ulasan dan pendapat beliau terkait masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat maupun negara, terutama mengenai radikalisme.
Cara pandang KH. Hasyim Muzadi yang selalu bisa menenangkan adalah kelebihan beliau dalam menghadapi persoalan bangsa. Dalam perjalanan karirnya, KH. Hasyim Muzadi tidak bisa dilepaskan dari Nahdlatul Ulama. KH. Hasyim Muzadi semenjak masih muda sudah berkecimpung di ke NU an, dan ini kelihatannya sudah mendarah daging. Keilmuan beliau mengani Islam tentu kita sepakat bahwa beliau adalah Ulama besar yang sangat mumpuni di berbagai bidang ilmu agama.
Di Indonesia, sosok profil KH. Hasyim Muzadi ini dikenal sebagai seorang Ulama yang dikenal selalu membawa nafas nasionalis dan pluralis. Sama seperti pendahulunya, Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi selalu membawa nafas nasionalisme anti radikalisme dan selalu menjaga kerukunan antar umat beragama melalu nafas pluralisme. Perjuangan KH. Hasyim Muzadi untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia tentu kita semua sudah mengetahuinya, terutama dalam menjaga NKRI dari ancaman radikalisme.
Profil dan Biodata Lengkap KH. Hasyim Muzadi
  • Nama: KH Achmad Hasyim Muzadi(KH Hasyim Muzadi)
  • Tanggal Lahir: 8 Agustus 1944
  • Kota Lahir : Bangilan, Tuban,
  • Jabatan: Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2004 dan 2004-2009)
  • Istri : Hj. Mutammimah
  • Anak : Enam orang (3 putra dan 3 putri)
  • Ayah : H. Muzadi
  • Ibu : Hj. Rumyati
  • Kemampuan Bahasa : Indonesia, Arab, Inggris

Riwayat Pendidikan KH. hasyim Muzadi
  • Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa Timur 1950-1953
  • SD Tuban-Jawa Timur 1954-1955
  • SMPN I Tuban-Jawa Timur 1955-1956
  • KMI Gontor, Ponorogo-Jawa Timur 1956-1962
  • PP Senori, Tuban-Jawa Timur 1963
  • PP Lasem-Jawa Tengah 1963
  • IAIN Malang-Jawa Timur 1964-1969
  • Bahasa 1972-1982

Perjalanan Karir KH. Hasyim Muzadi
  • Membuka Pesantren Al-Hikam di Jalan Cengger Ayam, Kodya Malang
  • Anggota DPRD Kotamadya Malang dari PPP
  • Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Malang
  • Anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur 1986-1987

Karir Organisasi KH. Hasyim Muzadi
  • Ketua Ranting NU Bululawang-Malang, 1964
  • Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang-Malang 1965
  • Ketua Cabang PMII Malang 1966
  • Ketua KAMMI Malang 1966
  • Ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971
  • Wakil Ketua PCNU Malang 1971-1973
  • Ketua DPC PPP Malang 1973-1977
  • Ketua PCNU Malang 1973-1977
  • Ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987
  • Ketua PP GP Ansor 1987-1991
  • Sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988
  • Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992
  • Ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999
  • Ketua Umum PBNU 1999-2004
  • Ketua Umum PBNU 2004-2009
  • Anggota DPRD Tingkat II Malang-Jawa Timur

Karya Tulus Buku KH. Hasyim Muzadi
  • Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999.
  • NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999.
  • Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.

Biografi KH. Syarif Rahmat

 
KH. Syarif Rahmat adalah seorang yang dilahirkan di Banjarsari Kabupaten Ciamis. KH. Syarif Rahmat RA, SQ, MA adalah sarjana Al-Qur'an atau bergelar SQ, beliau juga seorang Hafidz Qur'an atau penghafal Al-Qur'an. KH. Syarif Rahmat menghafalkan Al-Qur'an disela-sela kesibukannya dalam menjalani kegiatan akademis di Fakultas Syari'ah PTIQ. Dan yang luar biasa, KH. Syarif Rahmat berhasil menghatamkan hafal Al-Qur'an dalam waktu 11 bulan yang artinya belum ada satu tahun. Tidak saja mendapatkan pelajaran dan ilmu Al-Qur'an, KH. Syarif Rahmat juga pernah mengikuti kader Ulama Indonesia (PKU-MUI) yang diselenggarakan oleh MUI DKI Jakarta dan MUI Pusat.
Tidak cukup hanya menempuh sarjana Qur'an saja, KH. Syarif Rahmat kemudian melanjutkan pendidikan Al-Qur'an nya dengan menempuh dan menyelesaikan pasca sarjananya di Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta. Selanjutnya kemudian KH. Syarif Rahmat juga mengambil program Doktoral (S3) di Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktifitas beliau selain berdakwah dan memberikan tausiah, KH. Syarif Rahmat juga menjadi seorang dosen di PTIQ Jakarta dan juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qura Pondok cabe. Beliau juga merupakan pengasuh Padasuka atau Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga.
Aktifitas Dakwah KH. Syarif Rahmat
Selain aktif di berbagai acara Islam, KH. Syarif Rahmat adalah seorang penulis yang sangat produktif. Banyak karya tulisnya yang sudah diterbitkan, diantaranya buletin Jum'at "Qum" yang terbit setiap Jum'at sejak tahun 1989 sampai sekarang. Kemudian Munajat (1995), Muhasabah (2004), Pemburu Hantu dalam Tinjauan Syariat (2005) dan SMS Abu-Abu (2009).
Prestasi akademik KH. Syarif Rahmat juga sudah menonjol sejak beliau menjadi pelajar, diantaranya adalah juara cerdas Cermat isi dan kandungan Al-Qur'an pada MTQ tingkat Nasional tahun 1983 di Padang Musabaqah Tahfizil Qur'an 30 Juz berserta Tafsirnya, juara pertama Musabaqah Syarhil Qur'an DKI Jakarta. Bukan itu saja, KH. Syarif Rahmat juga merupakan Peserta terbaik PKU MUI baik ditingkat DKI maupun ditingkat MUI pusat. Tak berhenti di situ, prestasi KH. Syarif Rahmat juga peraih nilai tertinggi pada ujian masuk Pasca Sarjana IIQ Jakarta, dan juga enghargaan sebagai pendidik yang berprestasi oleh MediaPropil Indonesia tahun 2001.
Kegiatan KH. Syarif Rahmat dalam hal keagamaan sangat padat sekali. KH. Syarif Rahmat banyak mengisi tausiah di berbagai kalangan dan instansi baik instansi pemerintahan maupun instnsi swasta. Selain itu, KH. Syarif Rahmat juga sering mengisi pengajian-pengajian di majlis ta'lim sampai tabligh akbar tingkat nasional. KH. Syarif Rahmat juga merupakan penceramah tetap di Radio swasta di Jakarta, beliau juga pernah aktif sebagai pembibmbing kerohanian di Rutan Salemba Pndok Bambu, kemudian di RSUD Pasar Rebo dan masih banyak lagi tempat lainnya.

Biografi KH. Ahmad Dahlan

 
KH. Ahmad Dahlan mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Beliau adalah anak dari KH. Abu Bakar yang juga merupakan seorang Khottib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara. Ahmad Dahlan kecil, atau Muhammad Darwisy mendapatkan pelajaaran dan pengajaran agama Islam yang sangat kental. Terutama dari ayahandanya yang juga merupakan seorang Kyai dan tokoh Islam pada masa itu. Karena begitu besarnya perhatian orang tua Ahmad Dahlan terhadap pendidikan Agama Islam, maka KH. Ahmad Dahlan dikirim ke Mekkah pada usia 15 tahun untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu.

Setelah menunaikan haji, KH. Ahmad Dahlan tidak segera pulang, namun menetap di sana selama 5 tahun. Beliau di Mekkah berguru kepada banyak tokoh besar Islam dunia, beliau juga mulai bersentuhan dengan berbagai pemikiran Islam pembaharu seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Bukan saja berguru kepada ulama dari Mekkah, KH. Ahmad Dahlan juga berguru pada ulama Indonesia yang menetap di Mekkah seperti asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.
Nah, pada kesempatan kali ini, akan kami sampaikan informasi terkait profil dan biodata KH. Ahmad Dahlan. Karena meski beliau merupakan seorang tokoh besar Islam Indonesia, tentu masih ada teman kita yang belum mengerti dan belum memahami profil dan biodata KH. Ahmad Dahlan. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini akan kami sampaikan ringkasan perofil dan biodata serta biografi KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Islam Muhammadiyah.
Biodata KH. Ahmad Dahlan
  • Tanggal Lahir: 1 Agustus 1868,
  • Kota Lahir : Yogyakarta, Indonesia
  • Meninggal: 23 Februari 1923, Yogyakarta, Indonesia
  • Pasangan: Siti Walidah - Nyai Ahmad Dahlan
  • Orang tua: KH Abu Bakr (Ayah) dan Nyai Abu Bakr (Ibu)
  • Anak-anak:
  • Laki-laki: Dandanah, Irfan Dahlan, Siradj Dahlan.
  • Perempuan: Djohanah, Siti Aisyah, Siti Zaharah, Siti Busyro.
  • Organisasi Yang Didirikan: Muhammadiyah, 'Aisyiyah
  • Penghargaan: Pahlawan Nasional
KH. Ahmad Dahlan ini adalah salah satu ulama yang aktif berorganisasi. Dalim kariri organisasinya, beliau bernah menjadi anggota dari Budi Utomo dan Sarikat Islam (SI). Dari beberapa organisasi yang diikuti kemudian membawa KH. Ahmad Dahlan untuk membentu suatu organisasi yang bernafaskan Islam yaitu Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Kampung Kauman Yogyakarta. Sejak awal KH. Ahmad Dahlan menekankan bahwa organisasi yang ia bentuk bukanlah organisasi yang bergerak di bidang politik. Namun bergerak di bidang sosial dan terutama pada pendidikan. Di sini jelas bahwa KH. Ahmad Dahlan akan menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana untuk berdakwah dan pendidikan dengan membawa ideologi pembaruan Islam.
Pada awal pendirian Muhammadiyah ini, banyak sekali pertentangan dan bahkan KH. Ahmad Dahlan sendiri difitnah sebagai Kyai palsu dan bahkan Kyai Kafir. Namun dengan teguh, KH. Ahmad Dahlan tetap membesarkan Muhammadiyah dan bahkan kemudian bisa membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perkembangan anggota Muhammadiyah yang terus berkembang pesat, maka KH. Ahmad Dahlan pun memohon izin bantuan hukum untuk Muhammadiyah pada pemerintah Hindia Belanda pada 20 Desember 1912 namun ditolak. Tak menyerah begitu saja, KH. Ahmad Dahlan terus melobi sehingga pada akhirnya turun izin dari Belanda pada 22 Agustus 1914 namun hanya untuk Yogyakarta.

Biografi Buya Hamka


Buya Hamka sendiri sebenaarnya nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka adalah singkatan dari nama beliau tersebut, sedangkan Buya adalah panggilan kehormatan untuk seorang yang berilmu dan dituakan. Buya Hamka dilahirkan di kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat pada tahun 1908. Selain seorang ulama yang tinggi ilmu agama nya, Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang aktif menghasilkan novel dan berbagai karya tulis lainnya. Buya Hamka adalah anak dari Syaikh Abdul Karim bin Amrullah yang juga merupakan ulama di tanah minang. Tentu saja salah satu novel yang paling fenomenal adalah berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" yang beberapa waktu yang lalu diangkat ke dalam layar lebar.
Dalam perjalanan karirnya, Buya Hamka adalah seorang guru agama yang dimulai pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Selain di Tebing Tinggi, beliau juga menjadi guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Karir Buya Hamka di dunia pendidikan semakin cemerlang yang kemudian membawanya diangkat menjadi di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Tidak berhenti di situ saja, kemudian Buya Hamka menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.
Yang paling menarik dari Buya Hamka selain memang memiliki kecemerlangan dalam berbagai ilmu Islam, tentu adalah pemikiran beliau mengenai Islam itu sendiri. Buya Hamka sendiri adalah seorang otodidak yang mempelajari berbagai cabang ilmu seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan keahlian dalam bahasa Arab, Buya Hamka bisa mempelajari berbagai karya ulama klasik dan pujangga dari Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal.
Buya Hamka adalah seorang tokoh Muhammadiyah tulen, beliau aktif di organisasi tersebut, Bahkan Buya Hamka juga terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Kemudian pada tahun 1953, Buya Hamka dipilih menjadi penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah dan kemudian pada 26 Juli 1977 Buya Hamka diangkat sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia namun kemudian memutuskan mungundurkan diri.
Sebagai seorang Muhammadiyah, tentu pandangan Buya Hamka tidak sama dengan kebanyakan warga NU. Terutama dalam persepsi mengnai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan doa Qunut. Buya Hamka begitu keras menolak peryaan Maulid Nabi dan menggunakan doa Qunut waktu Sholat Subuh. Penolakan tersebut tentu menurut beliau karena kedua amalan tersebut tidak ada dalilnya dan tidak berdasar. Namun yang menarik adalah, pada masa-masa tua beliau, ada yang menyebutkan bahwa beliau melakukan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga melakukan doa Qunut.
Atas keanehan tersebut, beberapa santri yang kemudian bertanya, kenapa Buya Hamka melakukan hal itu. Buya Hamka pun menjawab, bahwa dulu beliau merlarang hal itu karena masih mengaji sati kitab, sekarang (Buya Hamka sudah tua), ngajinya sudah seribu kitab, maka beliau pun melakukannya. Bahkan lebih khusus, terkait doa qunut ini, ada cerita menarik antara Buya Hamka, yang pembesar Muhammadiyah dan KH. Idham Cholid yang merupakan pembesar NU.
Pada suatu ketika, beliau berdua berada dalam satu kapal yang akan menuju Mekkah untuk melaksanakan Haji. Beliau berdua dan beberapa jamaah kemudian melaksanakan Sholat Shubuh, di hari pertama, KH. Idham Cholid yang menjadi imam. Ketika melangsungkan sholat tersebut, KH. Idham Cholid tidak melakukan doa qunut, padahal di kalangan NU doa Qunut pada Sholat Subuh adalah seperti kewajiban. Setelah selesai sholat, Buya Hamka pun bertanya kepada Idham Cholid kenapa tidak melakukan Qunut. KH. Idham Cholid kemudian menjawab, “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”
Hari selanjutnya, giliran Buya Hamka yang menjadi Imam Shubuh, sungguh mengejutkan, Buya Hamka justru melakukan doa Qunut pada Sholat Shubuh tersebut. Padahal dalam amaliyah Muhammadiyah, doa Qunut dikatakan bid'ah yang tidak boleh dikerjakan. Atas keganjilan tersebut, tentu KH. Idham Cholid pun juga menanyakan hal itu pada Buya Hamka.
Idham Cholid : “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”
Buya Hamka : “Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.
Atas kejadian tersebut, akhirnya kedua ulama besar tersebut berpelukan hangat dan para jamaah pun menjadi terharu dan berkaca-kaca. Sungguh contoh dan tauladan yang sangat luar biasa dari kedua ulama besar Indonesia ini.
Biodata Buya Hamka
Tanggal Lahir : 17 Februari 1908
Tempat Lahir : Bendera Belanda Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat
Meninggal : 24 Juli 1981 (umur 73)
Nama pena : Hamka
Kewarganegaraan     ; Indonesia
Tema : Roman, tafsir Al-Quran, sejarah Islam
Angkatan : Balai Pustaka
Karya terkenal : Tafsir Al-Azhar
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Di Bawah Lindungan Ka'bah
Pasangan : Sitti Raham
           Sitti Khadijah
Orangtua : Abdul Karim Amrullah (ayah)
Kerabat : Ahmad Rasyid Sutan Mansur (kakak ipar)

Karya Tulis Buya Hamka
  • Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
  • Si Sabariah. (1928)
  • Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
  • Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
  • Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
  • Kepentingan melakukan tabligh (1929).
  • Hikmat Isra' dan Mikraj.
  • Arkanul Islam (1932) di Makassar.
  • Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
  • Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.
  • Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
  • Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
  • Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
  • Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  • Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  • Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
  • Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
  • Tuan Direktur 1939.
  • Dijemput mamaknya,1939.
  • Keadilan Ilahy 1939.
  • Tashawwuf Modern 1939.
  • Falsafah Hidup 1939.
  • Lembaga Hidup 1940.
  • Lembaga Budi 1940.
  • Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepang 1943).
  • Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
  • Negara Islam (1946).
  • Islam dan Demokrasi,1946.
  • Revolusi Pikiran,1946.
  • Revolusi Agama,1946.
  • Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
  • Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
  • Didalam Lembah cita-cita,1946.
  • Sesudah naskah Renville,1947.
  • Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
  • Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
  • Ayahku,1950 di Jakarta.
  • Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
  • Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
  • Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
  • Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
  • Kenangan-kenangan hidup 2.
  • Kenangan-kenangan hidup 3.
  • Kenangan-kenangan hidup 4.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  • Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
  • Pribadi,1950.
  • Agama dan perempuan,1939.
  • Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
  • 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
  • Pelajaran Agama Islam,1956.
  • Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
  • Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
  • Empat bulan di Amerika Jilid 2.
  • Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
  • Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
  • Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
  • Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  • Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
  • Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
  • Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
  • Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
  • Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
  • Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
  • Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
  • Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
  • Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
  • Himpunan Khutbah-khutbah.
  • Urat Tunggang Pancasila.
  • Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
  • Sejarah Islam di Sumatera.
  • Bohong di Dunia.
  • Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
  • Pandangan Hidup Muslim,1960.
  • Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons