Foto: Bagus Prihantoro Nugroho
Jakarta - Dalam pembukaan acara istigasah menyambut Ramadan
dan pembukaan munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, 14 Juni
lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj
mengatakan NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam
Nusantara. Istilah ini merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di
wilayah Nusantara, yang disebutnya dengan cara pendekatan budaya, tidak
dengan doktrin yang kaku dan keras.
"Para wali atau ulama leluhur
kita berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara berhadapan dengan
Majapahit, Sriwijaya, tanpa kekerasan. Menunjukkan Islam itu
berperadaban, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya," kata
Said dalam wawancara dengan majalah detik di kantor PBNU, Jakarta,
Selasa (23/6) lalu.
Bukan cuma Presiden Joko Widodo dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla yang menyokong ide ini. Cendekiawan Azyumardi Azra
pun menilai model Islam Nusantara dibutuhkan masyarakat dunia saat ini
karena ciri khasnya mengedepankan "jalan tengah".
Selain
memaparkan pandangannya ihwal Islam Nusantara, Kang Said — begitu ia
disapa — memaparkan persiapan Muktamar NU pada Agustus nanti. Ia pun
menyatakan kesiapannya memimpin PBNU lagi dan siap bersaing dengan
kandidat lain, termasuk adik kandung Gus Dur, KH Salahudin Wahid.
Berikut ini petikan perbincangannya.
Bagaimana Anda menyikapi kontroversi wacana Islam Nusantara yang dilontarkan Preside Jokowi?Islam
Nusantara sebenarnya bukan istilah yang harus diperdebatkan. Kita tidak
mengada-ada dengan terminologi itu seolah baru. Kami hanya
mengingatkan, Islam yang saat sekarang, yang menjunjung tinggi
toleransi, saling menghormati, beradab, dan berbudaya, adalah Islam kita
di Nusantara ini.
Kita lihat keadaan umat Islam di Timur
Tengah. Perang saudara tidak berkesudahan. Di Irak, Suriah, Yaman,
Somalia, Afganistan, Mesir, Libya.
Karena itu, NU mengangkat
simbol Islam Nusantara, artinya Islam atau umat Islam yang berkembang di
kawasan Nusantara, yang kita warisi dari para wali atau ulama leluhur
kita. Mereka telah berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara,
mereka berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan
lain. Berhasil mengislamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa
berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya akhlakul karimah.
Menunjukkan Islam itu beradab, bermartabat, disiplin, dan bersih
penampilannya.
Islam Nusantara itu artinya Islam yang tidak
menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak
menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara adalah Islam yang
mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang
ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia
atau insaniah.
Islam Nusantara modelnya seperti apa?Islamnya
kuat karena didukung budaya. Budaya menjadi lestari karena dipoles oleh
Islam. Kecuali tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, itu
jelas kita tolak. Misalnya dalam ritualnya ada hubungan seks bebas. Tapi
kirim doa orang mati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1.000 hari kita
lestarikan. Kita isi dengan tahlilan, zikir-zikir kepada Allah.
Para
Wali (Songo) terkenal jago sekali dalam hal (memadukan budaya dan
nilai-nilai Islam). Sunan Kudus melarang orang Kudus menyembelih sapi
untuk menghormati perasaan orang Hindu yang baru masuk Islam tapi masih
tersinggung melihat sapi disembelih. Sampai sekarang, di Kudus tidak ada
soto sapi, yang ada soto kerbau.
Begitu pula kalau masuk masjid
atau musala, kakinya harus bersih, caranya bukan ditulis lepas sandal,
batas suci. Tidak begitu. Di depan pintu masuk ada air. Jadi orang masuk
masjid pasti kakinya nyemplung air. Dakwah model itulah yang kita
maksud Islam Nusantara. Menggabungkan antara Islam dan budaya.
Ada preseden Islam yang terbuka dengan budaya?Seperti
dulu juga sahabat (Nabi Muhammad) sangat terbuka terhadap budaya luar.
Contohnya kubah masjid. Itu bukan dari Arab, tapi dari Romawi. Setelah
Islam menyebar ke Barat, melihat istana, gedung-gedung besar, gereja
pakai kubah, maka diambil kubah itu untuk masjid, sehingga tidak banyak
tiang di dalamnya.
Begitu pula kalau mau detail ilmu kalam. Islam
itu sebenarnya sistem dan metodenya terpengaruh filsafat walaupun
isinya adalah dalam rangka mentauhidkan Tuhan. Tapi sistem berpikirnya
terpengaruh filsafat Yunani. Itulah Islam yang terbuka.
Islam
Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus
pakai sorban. Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia. Hal
terpenting adalah substansinya, yaitu berakhlak Islam, beribadah. Gamis,
celana, sarung, tidak urusan itu.
Menghargai budaya dan tradisi membuat Islam Nusantara dicap sinkretis….Kita
tidak bisa hanya (berpegang pada) Alquran-hadis saja. Akal pun harus
dipakai, yakni ijma dan qiyas. Ahlus Sunnah Waljamaah itu mensinergikan
antara Alquran, hadis, dan akal.
Akal itu kalau akalnya orang
banyak kolektif namanya ijma atau konsensus. Kalau akalnya sporadis atau
satu-satu namanya qiyas. Alquran-hadis sebagai dasarnya. Semua ilmu
pengetahuan dalam Islam adalah kreativitas manusia. Nabi Muhammad tidak
mengajarkan ilmu. Tetapi, supaya ibadah kita atau berislamnya seperti
Nabi Muhammad, kita harus dengan ilmu.
Baca Alquran seperti Nabi,
harus dengan ilmu tajwid. Kalau yang mengatakan yang segala macam itu
adalah bid'ah, berarti semua ilmu yang kreativitas manusia artinya
bi'dah, dong. Ilmu tajwid, tafsir, hadis, balaghah, sastra Arab,
teologi, ilmu kalam tidak ada di zaman Nabi Muhammad.
Jangankan
ilmu, nulis Alqurannya saja tidak ada titiknya. Saya tidak bisa baca.
Yang bikin titik (di Al-Quran) itu ulama, bukan Nabi, bukan sahabat.
Islam
kita itu yang dibawa Wali Songo. Membawa keharmonisan dan kedamaian.
Sama sekali tidak membawa radikalisme atau mengkafir-kafirkan orang.
Tidak sama sekali.
Terkait rencana muktamar NU, sejauh mana persiapannya?Sudah
sampai pada materi yang akan dibahas. Di komisi bahtsul masail, yang
menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat, atau bersifat bahtsul
masail qonuniah, menyorot undang-undang pemerintah mana yang tidak
berpihak pada rakyat kita kritik. Ada juga rekomendasi. Persiapan secara
materi dan logistik saya sudah lihat di Jombang sangat luar biasa.
Pemerintah Jawa Timur sangat antusias, Kapolda Jawa Timur akan
mengerahkan 15 ribu polisi untuk mengamankan.
Ada kritik setelah munas terkait mekanisme ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang dinilai tak sesuai dengan AD/ART NU....Mereka
tidak baca AD/ART namanya. Coba kalau dibaca, rois 'aam itu dipilih
oleh muktamirin dengan musyawarah mufakat atau voting. Ahlul halli wal
aqdi itu musyawarah mufakat. Malah pilihan langsung itu atau voting.
Suara negatif itu memperlihatkan ketidakpuasan?Biasa, kalau mau muktamar panas, itu biasa. Tidak apa-apa. Dinamika berorganisasi.
Alasan muktamar menerapkan mekanisme AHWA?Biar
tidak gaduh. Ini bukan hanya di PB (pengurus besar), (tapi) sampai pada
wilayah dan cabang. Kita lihat akhir-akhir ini sampai di tingkat cabang
atau wilayah ada pihak-pihak ketiga yang menggunakan uang untuk
kepentingan orang-orang tertentu yang bisa diajak kerja sama. (AHWA) ini
untuk menghilangkan itu semua.
Ahlul halli wal aqdi adalah
sistem Islam. Khulafaur Rasyidin, Abubakar, Umar, Usman, dan Ali,
terpilih menggunakan ahlul halli wal aqdi, musyawarah mufakat. One man,
one vote, itu metode Barat kan, sehingga semua ulama yang menulis di
kitab kuning cara memilih pemimpinnya ahlul halli wal aqdi. Mengapa?
Karena menekankan pada kualitas. Tapi, kalau langsung, itu kuantitas,
sehingga suara profesor dengan tukang sampah sama.
Seburuk apa praktek uang dalam setiap pemilihan pengurus di NU?Kalau
di PBNU mungkin tidak, ya. Tapi kalau di cabang dan wilayah, misalnya
bupatinya mendukung si A. Kalau di PBNU kita masih punya idealisme.
Tidak pantas sebenarnya di NU itu ada politik uang.
Mekanisme AHWA ini pernah diterapkan pada muktamar sebelumnya?Di
Situbondo, Gus Dur terpilih menggunakan mekanisme ini. Gus Dur jadi
ketua umum diangkat oleh tiga kiai: Kiai As'ad (Syamsul Arifin), Kiai
Mahrus Ali, dan Kiai Ali Ma'sum. Awal-awal berdiri NU juga semua pakai
musyawarah. Kita lihat partai saja sudah aklamasi semua.
Anda akan maju lagi?Ya… ya... insya Allah siap kalau dipercaya.
Agenda ke depan kalau terpilih?Baru
kali ini kita membangun 24 universitas. Dulu universitas banyak, tapi
milik pesantren. Kalau yang kita bangun milik NU, milik organisasi. SMK
ada 62. Saya berfokus pada pendidikan. Saya kirim anak ke luar negeri.
Ke Australia 10, Amerika 5, Maroko 45, Sudan 100-an, Turki 15. Kita
konsolidasikan madrasah-madrasah di bawah NU, namanya Maarif, ternyata
ada 13 ribu madrasah. Baru kali ini kita data.
Tidak dibawa mendekat ke kekuatan politik tertentu?Enggak…
enggak…. Adapun pribadi pengurus pasti semua berpolitik. Saya pribadi
PKB. Bukan berarti NU saya ajak ke PKB. Ada yang Golkar, seperti Pak
Slamet Effendi, ada yang PPP, ada yang PDIP (Bendahara NU).
Ada kabar Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid) juga akan maju?Ya,
Gus Sholah maju. Pak (Muhammad) Adnan, mantan Ketua PWNU Jawa Tengah,
dan Ketua Lembaga Zakat Masyuri Malik juga akan maju. Tidak apa-apa.
Semua terserah muktamirin. Coba kalau ada muktamar terus enggak ada yang
mau maju, kan kacau itu.
Kalau pemilihan Ketua Umum pakai AHWA juga?AHWA
buat rois 'aam. Ketua umum tetap voting. Tidak layaklah kalau
antar-kiai sepuh diadu. Hiruk-pikuk, gaduh. Seperti di (Muktamar)
Makassar itu keras sekali. Kalau ketua umum tidak apa-apa, masih koboi.
Oh, ya, apa pendapat Anda soal gerakan NU Garis Lurus?Itu
cara berpikir orang yang masih sempit, belum paham tantangan ke depan
sebesar apa. Kalau nyusun pengurus hanya kiai semua dari pesantren ya
enggak jalan. Kalau dituduh ada yang liberal, ada yang genit dalam
berpikir seperti Pak Masdar (F. Mas'udi), ada yang dituduh PKI karena
melakukan rekonsiliasi, itu pekerjaan kita semua. Bagi kiai yang ndeso
itu, enggak bisa paham hal seperti itu. Garis lurus, jadi katanya NU
yang sekarang itu bengkok gitu?