GOOGLE SEARCH

Sunday, 5 February 2017

Beri Kado Pakaian Dalam Pink, Ibu-Ibu Sebut Ahok Banci


Beri Kado Pakaian Dalam Pink, Ibu-Ibu Sebut Ahok Banci
FPI Online, Jakarta - Puluhan ibu-ibu yang mengatasnamakan diri sebagai Solidaritas Perempuan NKRI memberikan kado untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Karena demonya tidak ditanggapi Ahok, mereka pun melempar kado untuk orang nomor satu di Jakarta itu.

"Jika Pak Ahok enggak mau keluar, baik, kami akan lempar saja nih (kadonya), ini buat bapak," kata koordinator aksi Andi Rini Sukmawati dari atas mobil komando di lokasi, Jumat (16/9/2016).
Kemudian, masa aksi yang ada di bawah mobil komando mengeluarkan kado yang telah dibungkus dengan kertas kado berwarna pink. Ternyata, kado tersebut berisi pakaian dalam wanita (BH dan celana dalam) berwarna merah muda atau pink.

Rini mengatakan, Ahok sebagai pemimpin dinilai tidak gentlemen. "Kenapa kami kasih bapak warna pink? Karena Bapak Ahok itu banci, banci, banci," seru Rini.

Berdasarkan pantauan, puluhan ibu-ibu itu sudah meninggalkan lokasi demo. Sedangkan berdasarkan informasi lain, akan ada massa RT dan RW yang akan melakukan aksi unjuk rasa di lokasi yang sama. Bahkan, tujuan mereka juga sama, yakni menolak kepemimpinan Ahok.

Massa yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan NKRI menggelar demo di depan Balai Kota Jakarta. Mereka meminta pemimpin Jakarta yang bisa menghargai semua kelompok sosial, termasuk perempuan.

"Saat ini Jakarta butuh pemimpin yang bisa bergaul dan bersahabat dengan warganya. Bisa menghargai semua kelompok sosial, juga kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam membangun kota," ujar koordinator aksi, Titiek Murniaty di depan Balai Kota DKI Jakarta.

Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa Jakarta tidak butuh pemimpin yang berkata kasar dan arogan seperti Ahok.

"Ahok sering berkata kasar kepada rakyat biasa, kepada perempuan, termasuk kepada guru. Ada Ibu yang dituduh maling uang Kartu Jakarta Pintar. Ahok juga pernah memaki pengusaha hotel yang menuntut keadilan. Sampai pemecatan kepala sekolah," teriak Titiek.

Selain itu, penggusuran yang sering dilakukan oleh Ahok juga berdampak pada banyaknya anak-anak yang putus sekolah.

Ratusan perempuan ini dalam aksinya membawa peralatan masak dan perlengkapan perempuan. "Ini sebagai simbol kalau Ahok sangat kasar kepada perempuan. Aparat juga pernah melakukan kekerasan dalam penggusuran. Ibu tua yang menjadi PKL di Monas juga pernah diseret-diseret petugas Satpol PP.

Dirinya meminta dan mengajak kepada seluruh perempuan untuk cerdas dalam memilih pemimpin di Pilkada DKI 2017.

okezone.com

Habib Rizieq: Ayo Polisi Jaksa Segera Tangkap Ahok


Habib Rizieq: Ayo Polisi Jaksa Segera Tangkap Ahok

FPI Online, Jakarta - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab mengecam keras pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menyebut bahwa Alquran surat Al Maidah ayat 51 sebagai kitab yang membodohi umat Islam.
 
Menurutnya, pernyataan itu sangat jelas bahwa Ahok telah menghina Alquran.
 
"Ahok menyatakan umat Islam dibohongi pakai Surat Al-Maaidah ayat 51 agar tidak pilih dia saat Pilkada. Ahok langgar KUHP pasal 156a tentang penistaan agama," jelas Habib Rizieq melalui pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Kamis (6/10/2016).
 
Oleh karena itu, ia mendesak aparat keamanan agar bertindak tegas terhadap Ahok. "Ayo polisi dan jaksa, segera tangkap Ahok," tegas Habib Rizieq.
 
Seperti ramai dibicarakan di media sosial, Ahok mendapat kecaman publik lantaran memelintir ayat suci Alquran dalam video youtube berjudul 'Ahok: Anda Dibohongi Alquran Surat Al-Maidah 51'. Saat ini video tersebut tengah menjadi viral di media sosial, baik Facebook, Twitter dan yang lain.
 
Dalam video yang diunggah Rabu (5/10/2016) tersebut, Ahok terlihat mengatakan :
 
"Bapak Ibu ndak Bisa memilih Saya. dibohongi pake surah Al-Maidah 51 dan macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya, jika Bapak Ibu perasaan tidak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, ya enggak apa-apa? Karena ini kan panggilan pribadi bapak-ibu. Program ini jalan saja. Jadi, bapak ibu tak usah merasa enggak enak dalam nuraninya enggak bisa memilih Ahok," kata Ahok di hadapan warga di Kepulauan Seribu.

Fadli Zon : Mudah-mudahan Kita Berumur Panjang Sampai Ahok Pakai Rompi Oranye


Fadli Zon : Mudah-mudahan Kita Berumur Panjang Sampai Ahok Pakai Rompi Oranye
Wakil Ketua DPR Fadli Zon‎ membela Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait audit pembelian lahan RS Sumber Waras oleh Pemprov DKI. Ia pun mendoakan Ahok menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 
 
"Saya kira kita mudah-mudahan berumur panjang sampai dia (Ahok, red) mendapat rompi oranye (tersangka KPK, red)untuk mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan," kata Fadli di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (14/4/2016).
 
Sindiran Fadli ini terkait pernyataan Ahok kepada salah seorang pimpinan BPK, Prof. Edy Mulyadi, sehari sebelumnya. Saat di Balai Kota, Ahok mengaku telah mendoakan Prof Edy agar berumur panjang agar kelak bisa melihatnya menjadi presiden. "Bilangin, Ahok udah doain dia umur panjang supaya dia lihat Ahok jadi presiden," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/04) lalu. 
 
Penilaian Ahok yang menyebut hasil laporan pemeriksaan audit investigasi BPK terkait kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras ngaco dianggap Fadli sebagai jurus mabok dari Ahok. ‎"Apa lagi dia mengatakan umur panjang dan berdoa, saya kira ini sudah jurus halusinasi," ucapnya. 
 
Menurut dia, Ahok harus bertanggung jawab atas kasus lahan Rumah Sakit Sumber Waras‎. "Dia bantah dengan alasan-alasan yang seperti itu, menurut saya sih sudah jelas ada korupsi di situ dan Ahok harus bertanggung jawab di dalam masalah Sumber Waras itu terang dan jelas," pungkasnya.
 
Kasus RS Sumber Waras bermula saat Pemprov DKI membeli lahan milik Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW) senilai Rp 800 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan DKI 2014.
 
Oleh BPK, proses pembelian itu dinilai tidak sesuai dengan prosedur, dan Pemprov DKI membeli dengan harga lebih mahal dari seharusnya sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp191 miliar.
 
BPK juga menemukan enam penyimpangan dalam pembelian lahan Sumber Waras. Enam penyimpangan itu dalam tahap perencanaan, penganggaran, tim, pengadaan pembelian lahan RS Sumber Waras, penentuan harga, dan penyerahan hasil.
 
Meski demikian, Ahok tetap berpandangan bahwa tidak ada kerugian negara dalam pembelian lahan tersebut. Kasus itu pun masih diselidiki KPK untuk memastikan ada atau tidaknya tindak pidana.
 

Habib Rizieq : Ahok Koruptor Tulen!


Habib Rizieq : Ahok Koruptor Tulen!
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab secara tegas mengatakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok adalah seorang koruptor tulen.
"Ahok Koruptor Tulen..!!!" tulis Habib Rizieq dalam akun Facebooknya yang diposting, Kamis (23/6/2016).
Bukan tanpa alasan ia mengatakan demikian, setidaknya ada lima kasus korupsi Ahok yang dibeberkannya. Antara lain:
1. LAPORAN RESMI BPK bahwa Ahok telah rugikan Negara sebesar Rp.1,8 Trilyun, salah satunya Kasus Sumber Waras senilai Rp.191,3 Milyar.
2. PUTUSAN RESMI ANGKET DPRD DKI JAKARTA bahwa Ahok terbukti telah melanggar UU Pengelolaan Keuangan Daerah.
3. PENGAKUAN AHOK DAN TIM TEMAN AHOK bahwa mereka telah terima Bantuan Pengusaha sebesar Rp.4,5 Milyar untuk kepentingan Kampanye Politik Ahok. Ini dalam UU disebut sebagai Korupsi jenis GRATIFIKASI, karena "pejabat" terima bantuan untuk kepentingan "pribadi". Itu jumlah yang sudah diakui, disana masih banyak lagi jumlah yang harus ditelusuri.
4. PENGAKUAN AHOK bahwa dia terima Dana Bantuan Pengusaha Pengelola Reklamasi Teluk Jakarta sebesar Rp. 6 Milyar untuk Penggusuran Penjaringan, sehingga patut diduga sebagai KORUPSI BARTER Penggusuran dengan Perizinan Reklamasi.
5. SK AHOK tentang Larangan Qurban ternyata hanya untuk monopoli perdagangan dan penyembelihan Hewan Qurban di RPH Cakung yang bernilai "triliyunan rupiah" bagi perusahaan yang sudah "ditunjuk langsung" oleh Ahok.

"Inilah LIMA MEGA SKANDAL KORUPSI AHOK yang wajib diperiksa dan didalami serta diusut oleh KPK dan Kepolisian serta Kejaksaan," pesan Habib Rizieq.

Ahok Jangan Kebal Hukum Umat Islam tak Benci Agama Lain


Ahok Jangan Kebal Hukum Umat Islam tak Benci Agama Lain
FPI Online, Jakarta - Jum'at,  4 November 2016,  ada demo besar-besaran yang disebut Aksi Bela Islam II dan Aksi Bela Al Qur'an. Aksinyang digelar sejumlah organisasi kemasyarakat Islam itu dikoordinir oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) yang diketuai KH Bachtiar Nasir.   Di Jakarta, aksi  dimulai setelah Shalat Jum'at di Masjid Istiqlal, lalu mengepung Istana Kepresidenan (Istana Merdeka, Istana Negara, Wisma Negara, Kantor Presiden dan tentu Kompleks Sekretariat Negara). Di daerah lain juga akan ada demo yang sama, demo penegakan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, si penista Al Qur'an, bukan demo anti agama Kristen, bukan demo anti Cina dan bukan demo anti Bhinneka Tunggal Ika.

 Aparat keamanan disiapkan/disiagakan penuh, terdiri dari Polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jumlahnya diperkirakan 18.000 personel. Ada yang menarik dari pernyataan petinggi keamanan, "Petugas di lapangan tidak dilengkapi dengan peluru tajam." Tentu, ada pertanyaan, yang dibawa aparat apa? Ya biasanya peluru karet, gas air mata, tameng dan alat pemukul dari rotan. Menariknya lagi, 800 polisi (500 Brimob) dan 300 Polisi Wanita (Polwan) diturunkan mengamankan   dengan pakaian Islami. Brimobnya pake sorban dan peci serba putih dan Polwannya pake jilbab serba putih juga. "Alhamdulillah anggota polisi sudah jadi 'anggota' FPI (Front Pembela Islam)," demikian gurauan yang saya dengar di Markas FPI Petamburan, Jakarta Pusat.

Banyak berita di media sosial (medsos) yang mencoba menyimpangkan tujuan demonstrasi yang diperkirakan akan diikuti 500.000 orang lebih. (Bachtiar Nasir menyebutkan 200.000 orang lebih). Demo Aksi Bela Islam I saja pesertanya diperkirkan mencapai 100.000 orang, tetapi media-media (karena sekuler) menyebutkan sekitar 5.000 sampai 10.000 orang). Pemberitaan belakangan dicoba dialihkan dari ingin penegakan hukum terhadap Ahok (polisi diminta menangkapnya) menjadi seolah-olah ingin menggulingkan Presiden Joko Widodo. Yang lebih fatal lagi, kegiatan tersebut dikait-kaitkan dengan anti Cina dan anti agama Kristen, serta dikaitkan juga dengan kelompok ISIS.
Waduuuh...kalau begini bagaimana ya cara berpikir mereka itu, terutama para pendukung Ahok, yang bela mati-matian si mulut ember itu.

Adu-domba PKI

Tidak ada anti ras, tidak ada anti agama lain. Tidak ada anti Bhinneka Tungal Ika. Itu juga yang disampaikan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab saat jumpa pers di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Pendemo hanya anti pada Ahok yang menista Agama Islam, menghina Al Qur'an. Buktinya, saat demo Aksi Bela Islam I, dua minggu lalu, tidak ada satu botol aqua pun yang dilemparkan pendemo ke halaman gereja yang dilewati. Selain di seberang Masjid Istiqlal, juga ada gereja di dekat Stasiun Gambir. Kalau dikatakan anti Cina, toh tidak ada juga toko Cina, atau mobil Cina yang dirusak pendemo. Bahkan, banyak juga orang Cina yang tidak suka sama Ahok.
Pendemo tidak membenci agama lain dan ras tertentu. Yang dibenci adalah Ahok yang kebetulan Cina dan beragama Kristen.

Yang pasti dan jelas demo 4 November 2016 itu juga  diikuti kaum nasionalis seperti putra Presiden I RI, Rachmawati Soekarno Putri, Adi Masardi dari Rumah Perubahan Indonesia, musisi Ahmad Dhani, budayawan Ratna Sarumpaet. Dua nama terakhir pernah berseteru dengan FPI.
Akan tetapi, dalam demo mereka berpartisipasi aktif. Ahmad Dhani akan menyumbangkan sound system yang biasa digunakan di panggung musik. Ia juga menegaskan, yang membelok-belokkan pernyataan dan menuduh-nudih aksi demo itu tidak nasionalis adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). "Itu cara-cara PKI," katanya lantang.
Sedangkan Ratna Sarumpaet menyebutkan aksi demo bukan intoleran. "Yang intoleran itu Si Ahok yang menghina Al Qur'an," katanya.

Oleh karena itu, jika ada kekhawatiran akan merembet ke kelas bawah, terutama keturunan Tionghoa yang menengah ke bawah, itu juga tidak benar dan kekhawatiran yang berlebihan.
"Kita melakukan aksi damai. Tidak mau kekerasan dan kerusuhan apalagi chaos. Akan tetapi, tidak tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang ingin rusuh dan chaos. Kita tidak bisa menutupi itu," kata Habib Rizieq.

Saya teringat ketika terjadi kerusuhan Mei 1998. Sebagai wartawan, saya meliput peristiwa tersebut dan mewawncarai beberapa orang yang sempat menjarah dan membakar rumah dan toko (ruko) di daerah Cileduk, dan wilayah Tangerang lainnya, termasuk ruko yang dijarah dan dibakar di depan perumahan saya tinggal (Cipondoh, Kota Tangerang). Menurut beberapa orang yang saya wawancara, mereka melakukan penjarahan dan pembakaran karena terjadinya ketimpangan ekonomi dan terlalu dekatnya rejim Soeharto dengan konglomerat Cina. (Hasil wawancara tidak dimuat di koran saya bekerja, karena saat itu yang berkuasai adalah rejim Soeharto yang disokong oleh Militer (TNI dan Polri).

Mereka menyebutkan Soeharto terlalu memanja (Liem Sio Liong alias Sudono Salim) dengan Grup Indocement dan BCA-nya, pun juga dengan pengusaha keturunan Cina lainnya. Jadi, akibat ulah segelintir pengusaha turunan yang sukses, maka korbannya adalah rakyat pemilik ruko. Nah, kalau pun sekarang (mudah-mudahan tidak terjadi ya) terjadi kerusuhan dan pembakaran, yang dibenci itu adalah tetap Ahok. Hanya akibatnya merembet ke kelas bawah, kepada para pedagang yang notabene adalah keturunan Tionghoa.

Akan tetapi, saya yakin masyarakat muslim yang turut demo sudah sangat cerdas. Asalkan, aparat penegak hukum (polisi) menyeret Ahok secara hukum. Ahok tidak bisa klarifikasi begitu saja mengenai pernyataanya di Kepulauan Seribu itu. Dia tidak bisa membela dengan mengatakan, "Saya tidak bermaksud menghina agama Islam dan Al Qur'an. Saya sekolah di SD, SMP Islam....bla...blaa...blaa." Bahkan dia pun sering mengatakan ayah angkatnya seorang Muslim. Orang yang sudah nyantri puluhan tahun saja tidak berani menanfsirkan sendiri Al Qur'an. Bahkan yang sudah hagal 30 zus.

Masih ingat kasus Aswendo, yang menghina Nabi Muhammad SAW di tabloid Monitor. Aswendo yang juga Kristen mengatakan tidak bermaksud menghina Nabi Muhammad. Tetapi, dia tetap divonis bersalam 5 tahun penjara.

Jadi, polisi diharapkan benar-benar mendengarkan suara umat Islam. Biarkan Ahok melakukan pembelaan di depan hakim, dan hakimlah yang akan memutuskan salah atau tidaknya Basuki. Bukan Ahok sendiri dan bukan juga penyidik dan polisi. Polisi jangan takut pada pengusaha Cina di belakang Ahok. Polisi juga jangan bertindak sebagai hakim apalagi "pengacara" buat Ahok.
Nanti juga akan akan kalimat, "Kalau begini, investor takut masuk. Investor dalam negeri akan kabur." Itu kalimat ancaman, yang selalu ada sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Tetapi, nyatanya sekarang investor aman-aman saja.

Polisi harus ingat sejarah reformasi. Siapa yang paling banyak korban, umat Islam atau bukan? Siapa yang paling banyak menyuarakan agar Polri berpisah dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sekarang TNI. Saya masih ingat ketika polisi menjadi bulan-bulanan pendemo, mahasiswa dan rakyat di sekitar Jembatan Semanggi. Banyak polisi juga yang jadi korban.

Wahai polisiku, jadilah penegak hukum yang adil dan seadil-adilnya. Ingat sumpah jabatan yang dengan tegas menyebutkan tidak berpihak kepada golongan tertentu. Saya khawatir, jika aparat polisi tidak cepat merespon keinginan umat Islam, azab Allah Subhanahu wata'ala akan turun. Semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga petinggi kepolisian benar-benar membuka mata dan telinga terhadap apa yang disuarakan rakyat, utamanya Umat Islam yang Kitab Sucinya dihina.

Gerombolan Ahok Kalap


Gerombolan Ahok Kalap

KETIKA AHOKERS KALAP by Zeng Wei Jian Sun Tzu bilang, "Ada lima faktor fundamental untuk menang perang...dan moral influence adalah faktor terpenting." Ahokers hanya paham sedikit soal "faktor moral" ini, lantas membabi-buta. Pasca penistaan Surat Al-Maidah 51, semakin jelas bahwa Ahok keropos. Aksi demonstratif prohok hanya dihadiri 25 orang. Bukan tandingan aksi "sejuta umat" tangkap Ahok. Ahokers memperdaya Wagub Djarot dalam aksi manipulasi sepetak taman. Tetap gagal naikan elektabilitas Ahok. Publik semakin jijik. Djarot kena getah. Dibully abis-abisan. Nyata, Ahok tidak didukung banyak pihak. Cuma Nusron Wahid, Nyonya Daimah, Mustofa Bisri dan Gus Coy. Semua ustad, kyai, alim-ulama dan tak terhitung laskar meminta polisi menangkap Ahok. Dunia internasional juga mengecam penistaan agama yang dilakukan Ahok. Ini perang asimetri (tak berimbang). Ahok ngga punya chance menang. Jakarta terdiri dari 85% muslim. Indonesia secara keseluruhan berkomposisi 95% muslim. Fakta ini hendak ditiadakan oleh Ahokers. Setelah gagal memanipulasi taman, Ahoker mencoba memainkan isue disintegratif. Tujuannya menaikan kepercayaan diri, militansi dan moral prohok dari golongan minoritas: cina rasis & kristen fundamentalis. Sekali lagi, in war, faktor moral pegang peranan penting. Itu diajarkan semua ahli perang seperti Goebbels dan Carl von Clausewitz. Karena itu, citra Ahok hebat perlu selalu dijaga. Agar moral prohok tidak rusak. Sehingga mereka bisa lebih bringas, sekaligus ngga tau malu. Prohok katak dalam tempurung ini coba diyakinkan bahwa Ahok masih kuat. Isue disintegratif itu adalah menyebar hoax dukungan Gubernur Papua, Panglima Perang Dayak dan Laskar NTT. Selain, tentu saja, memfitnah MUI. Namanya kebusukan, sooner or later, pasti tercium. Dalam kasus Ahokers, kebusukan itu cepat sekali terbongkar. Sehari sesudah mereka menggoreng isue, Gubernur Papua merilis penyangkalan. Dia menyatakan tidak pernah ngomong akan memerdekakan Papua demi Ahok. Malahan dia bilang Ahokers itu sekumpulan provokator. Panglima Perang Suku Dayak juga menyangkal hoax dukungan kepada Ahok. Dia datang ke Sulawesi sebagai duta budaya. Tidak urus politik, apalagi urusan politik Ahok di Jakarta. Terakhir, foto yang diklaim sebagai pemuda NTT yang katanya siyap memerangi FPI ternyata foto kuno gerilyawan Fretelin. Sampai di sini, Oh My God, keterlaluan sekali Ahokers ini. Ngga sadar, mereka memprovokasi umat Islam dan menyulut peperangan yang tidak mungkin dimenangkan golongan minoritas pro Ahok.

Mahkamah Konstitusi RI Menolak Permohonan Uji Materil Ahok Soal UU Pilkada


Mahkamah Konstitusi RI Menolak Permohonan Uji Materil Ahok Soal UU Pilkada

Senin, 22 Agustus 2016

Jakarta - Baru saja selesai sidang di Mahkamah Konstitusi (MK), dimana Ahok mengajukan judicial review UU Pilkada. Yaitu Ahok memohon kepada Majelis Hakim MK agar diperbolehkan tidak mengambil cuti kampanye saat Pilgub DKI 2017, yang bagi sebagian besar masyarakat jelas ini merupakan siasat Ahok supaya bisa bebas menggunakan fasilitas negara saat masa kampanye.

Padahal saat Pilgub DKI 2012 lalu Ahok justru sangat ngotot meminta Fauzi Bowo sebagai Cagub DKI petahana (incumbent) untuk mengambil cuti kampanye dengan alasan supaya Fauzi Bowo tidak bisa menggunakan fasilitas negara, sbb buktinya:

http://gubernurmuslim.com/news/index.php/2016/08/12/ahok-menjelangpilgub-dki-2012-fauzi-bowo-sebagai-cagub-dki-incumbent-wajib-mengambil-cuti-kampanye/

Namun hari ini Ahok terpaksa gigit jari karena keinginannya itu dimentahkan oleh Majelis Hakim MK. Apabila Ahok tetap ngotot, MK masih berkenan memberikan Ahok kesempatan selama 14 hari (2 minggu), tepatnya sampai 5 September 2016 untuk memperbaiki dulu berkas permohonannya karena banyak ngawur, tidak jelas dan tidak lengkap.

Seperti yang dimaksud Ahok bahwa apabila ia melakukan cuti kampanye maka itu akan menyebabkan "kerugian negara", bagi Majelis Hakim MK alibi Ahok ini tidak jelas, dan Ahok pun memang tidak mampu memaparkannya dengan logis.

Termasuk pula alibi Ahok bahwa ia akan kehilangan "hak konstitusional" apabila mengambil cuti kampanye, bagi Majelis Hakim MK itupun tidak jelas.

Siang ini di ruang sidang MK Ahok benar-benar telah dipermalukan oleh Majelis Hakim MK. Wajah Ahok pucat pasi bagai mayat setelah mendengar langsung penjelasan-penjelasan para hakim MK, yang telah menguliti berkas permohonan Ahok yang ngawur dan sumir.

Sebelum kemudian tanpa banyak bicara kepada Majelis Hakim MK, Ahok ngeloyor pergi meninggalkan ruang sidang sebagai seorang pecundang gagal!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons